Menapaki Resolusi Hampa Kemerdekaan Palestina

Menapaki Resolusi Hampa Kemerdekaan Palestina

Potret Berlangsungnya Konferensi Islam Asia Afrika/foto: Koleksi Museum KAA

Resolusi Perdamaian atas konflik di Palestina telah lama diperjuangkan, namun benang kusut persoalan masih belum bisa diuraikan

Aqsainstitute.org— Kemerdekaan Palestina adalah sebuah jalan panjang perjuangan yang  harus terus diupayakan, baik itu melalui gerakan intifadha yang langsung berhadapan dengan tentara Israel di lapangan, maupun lewat diplomasi-diplomasi yang juga harus ditempuh.

Penjajahan yang dilakukan oleh Israel telah menarik perhatian dunia sejak dulu kala, banyak negara yang mengecam keras, hingga merutuki setiap laku kejahatan yang dilakukan oleh Israel terhadap penduduk Palestina. Indonesia adalah salah satu negara yang sejak dipimpin oleh Presiden Soekarno begitu vokal dalam menyuarakan kemerdekaan dari tempat suci Baitul Maqdis dan Al-Aqsa di Palestina.

Langkah kongkrit apa saja yang pernah dilakukan oleh Indonesia untuk membantu kemerdekaan bumi Isra Mi’raj itu? International Aqsa Institute sebagai lembaga kajian Palestina dan kajian Timur Tengah telah menyajikannya untuk Sahabat Aqsa semua.

 

Resolusi Kemerdekaan Palestina Dalam Dua Konferensi Akbar

Indonesia yang berusia belum genap 10 tahun merdeka kala itu, telah membuat terobosan besar dengan menggelar Konferensi Asia Afrika 1955, yang bertempat di Gedung Merdeka Kota Bandung.

Potret peserta sidang Konferensi Islam Asia Afrika/foto: Koleksi Museum KAA

Konferensi ini digelar atas rasa keprihatinan, rasa senasib sepenanggungan terhadap negara-negara yang berada di kawasan Benua Asia dan Afrika, yang mayoritas masih menjadi negara jajahan di bawah negara-negara Eropa. Termasuk Palestina turut andil menjadi peserta di dalamnya. Hasil dari Konferensi Asia Afrika ini menghasilkan 10 poin utama yang disebut juga dengan Dasa Sila Bandung. Ada secercah harapan ketika Dasa Sila Bandung dicetuskan untuk dapat menjadi semangat negara-negara tejajah di Benua Asia dan Afrika untuk lekas merdeka.

Resolusi kemerdekaan Palestina pun tidak luput dibahas dalam rangkaian agenda gelaran konferensi. Bahkan sempat terjadi silang pendapat dari para peserta perihal penyebutan Zionis Israel yang sama halnya bahkan lebih buruk ketimbang kolonialisme yang dilakukan negara-negara Barat.

Baca juga: Arti Penting Kota Al-Quds Bagi Umat Muslim

 

Sepuluh tahun berselang, Indonesia kembali memprakarsai lahirnya Konferensi Islam Asia Afrika Tahun 1965. Dengan Kota Bandung sebagai tuan rumah penyelenggaranya. Pada gelaran yang khusus diikuti oleh negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini, kemudian melahirkan hasil kesepakatan bersama antar seluruh negara-negara peserta.

Lagi-lagi kemerdekaan Palestina menjadi salah satu hal yang disoroti, bahkan resolusi kemerdekaan Palestina di masukan dalam hasil konferensi yang tertulis sebagai berikut:

-Resolusi-resolusi Khusus:

  1. Palestina

KIAA I (Konferensi Islam Asia Afrika I) memandang bahwa masalah Palestina bukanlah masalah Arab saja, tetapi merupakan masalah umat Islam seluruhnya.

Berdasarkan hal tersebut, Konferensi Islam Asia Afrika I menentukan bahwa seluruh dunia Islam harus menolak keberadaan negara Israel, memberi bantuan kepada Palestina.

  1. Hak Menentukan Nasib Sendiri.

Konferensi Islam Asia Afrika I mendukung setiap usaha untuk menentukan nasib sendiri sesuai ajaran Islam dan dekalarasi hak-hak manusia yang berlaku bagi semua manusia dan bangsa di dunia, terutama bagi umat Islam yang berjuang melawan kolonialisme dan neokolonialisme.

 

Harapan Kemerdekaan Yang Tak Pernah Terberi

Kendati resolusi atas kemerdekaan Palestina selalu mengemuka dalam pertemuan-pertemuan Internasional banyak negara. Namun, sampai peringatan Konferensi Asia Afrika yang selalu digelar setiap tahunnya ini, tinggal Palestina seorang, negara eks-peserta Konferensi Asia Afrika yang masih belum merdeka sampai saat ini.

Sahabat, hal inilah yang menjadi dasar bahwa perjuangan Palestina belum usai, tidak cukup berakhir di atas meja perundingan, sementara penduduk asli pewaris tanah Palestina masih mengalami perundungan. Begitupun tidak akan ada habisnya perlawanan di atas aspal jalanan, tanpa manuver politik sebagai bagian dari siasat mengatur pemerintahan. (itari/aqsainstitute)

Komentar

Share this post