Deal of The Century, Duplikasi Apartheid Masa Kini

Deal of The Century, Duplikasi Apartheid Masa Kini

Potret saat salah satu peserta aksi mengibarkan bendera Palestina/foto:Haaretz

 

21 Maret menjadi Hari Peringatan Penghapusan Diskriminasi Sedunia, peringatan ini didasarkan pada peristiwa penembakan para demonstran Afrika Selatan yang menolak diskriminasi. Kebijakan Diskriminasi (Apartheid) sudah dihapuskan, tetapi sampai saat ini praktiknya masih dijalankan dalam bentuk baru yaitu Deal of The Century.

Aqsainstitute.org— Kebijakan yang diwacanakan dalam Deal of The Century Donal Trump begitu merugikan pihak Palestina dari berbagai lini. Pembagian wilayah-wilayah tertentu bagi penduduk Palestina mengingatkan kita semua pada kebijakan Bantustant rezim Apartheid yang pernah diterapkan oleh penjajah Inggris di Afrika Selatan. Bagaimana sebenarnya rancangan Deal of The Century persekongkolan dari Donal Trump dan Israel ini?

International Aqsa Institute, lembaga kajian Palestina dan kajian Timur Tengah sajikan informasinya untuk sahabat sekalian.

Rencana Pembagian Wilayah Palestina Layaknya Homelands Afrika Selatan

Peta rancangan masa depan Palestina dalam Deal of The Century mengingatkan kita semua terhadap peta wilayah yang juga diterapkan oleh rezim Apartheid di Afrika Selatan. Selama rezim itu berlangsung terdapat pembagian wilayah yang disebut dengan homeland, di mana setiap homeland didiami oleh orang-orang kulit hitam dan suku-suku tertentu, sedangkan orang kulit putih mendiami wilayah yang lebih luas dan berada di pusat kota.

Peta pembagian wilayah saat rezim Apartheid berlangsung di Afrika Selatan/foto: South Africa Gateway

Peta persebaran  tersebut jelas memiliki kemiripan dengan peta rancangan Palestina pada masa depan yang tercantum dalam Deal of The Century Donal Trump. Di mana penduduk Palestina direncanakan untuk di tempatkan pada wilayah-wilayah yang begitu kecil, terpisah dari wilayah lainnya, serta berada dalam pengawasan penuh dari pemerintah Israel. Padahal, Israel sejatinya tidak memiliki kewenangan atas tanah Palestina, selain mengklaim diri sebagai keturunan yang memiliki tanah Palestina. 

Baca juga: Peta Rancangan Masa Depan Palestina Terbongkar

 

 

Penjajahan Berkedok Rasialisme

Sama seperti di Afrika Selatan, alasan ras menjadi legalisasi atas penjajahan yang terjadi. Ras berkulit putih yang notabenenya merupakan pendatang, justru menjajah dan mendiskreditkan penduduk asli Afrika Selatan yang mayoritas berkulit hitam. Israel menerapkan hal ini dengan membeda-bedakan antara kaum Yahudi dan Arab, bahkan membangun tembok pembatas yang membentang luas sebagai pembeda pemukiman penduduk Yahudi dan Palestina, seperti telah di bangun di Tepi Barat dan daerah Gaza.

Salah satu bentuk diskriminasi ras yang pernah terjadi di Afrika Selatan dengan membagi daerah yang dihuni kulit putih dan ras berkulit hitam/foto:DW

Hal serupa juga tertuang dalam rancangan proposal Deal of The Century Trump. Di mana wilayah-wilayah yang dipetakan sebagai tempat tinggal warga Palestina, juga terdapat pos-pos penjagaan yang ketat dari Israel, dan tidak memberikan kebebasan sama sekali terhadap warga Palestina. Ini mengartikan bahwa sejatinya rencana proposal Deal of The Century itu bukanlah menjadi solusi perdamaian bagi kedua pihak, justru Palestinalah yang menjadi bagian paling di rugikan.

Simak informasi menarik lainnya: 7 Dampak Deal of The Century Bagi Masa Depan Palestina

 

Uni Afrika Mengecam Keras Deal of The Century

Dalam sebuah kesempatan Konferensi Tingkat Tinggi Uni Afrika, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyoroti rencana proposal Deal of The Century yang di prakarsai oleh Donal Trump. Membandingkannya dengan sistem Bantustant yang pernah diterapakan rezim Apartheid di Afrika Selatan. Dirinya menyebutkan bahwa rancangan proposal tersebut mengingatkannya kepada sejarah mengerikan yang pernah dilalui oleh Afrika Selatan.

Cyril Ramaphosa Presiden Afrika Selatan/foto:The Telegraph

Ketika saya mendengarkan Liga Arab dan ketika saya mendengarkan rekan-rekan kami dari Palestina, sepertinya rencana Deal of The Century ini. Pertama, belum dikonsultasikan dengan berbagai pihak, terutama dengan Palestina. Rencana proposal ini kedengarannya seperti jenis konstruksi baru dari kebijakan Bantustan yang pernah diterapkan” tandasnya.

 

Moussa Faki Mahamat yang menjadi Ketua Komisi Uni Afrika mengatakan bahwa rencana Trump ini dirancang tanpa koordinasi internasional. Kemudian dirinya menegaskan bahwa rencana itu justru menginjak-injak hak rakyat Palestina”.

Perjuangan penduduk Palestina dalam melawan diskriminasi Israel yang bersekongkol dengan Amerika terus berlanjut. Praktik penajajahan berkedok rasialisme masih saja terjadi hingga kini, kebijakan-kebiajakan rencana proposal Deal of The Century erat sekali kaitannya dengan mengadopsi model baru dari kebijakan Bantustant yang pernah diterapkan di Afrika Selatan. (itari/aqsainstitute)

(Sumber: Red Revolution, Africa Frique)

Komentar

Share this post