10 Tindakan Penistaan Israel Terhadap Al-Aqsa

10 Tindakan Penistaan Israel Terhadap Al-Aqsa

Peserta Aksi Palestina melaksanakan salat diluar kompleks Masjid Al-Aqsa yang dijaga sangat ketat oleh tentara Israel/foto: Religion News Service

Kejahatan Israel terhadap kiblat pertama umat Muslim ini semakin bertambah buruk setiap harinya. Penistaan, perusakan masjid hingga penangkapan tokoh perjuangan Palestina semakin kentara.

 

Aqsainstitute.org— Masjid Al-Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam masih belum memperoleh kemerdekaannya sampai hari ini. Sejak Israel menjajah Palestina, penistaan terhadap masjid penuh keberkahan ini masih saja terus terjadi, bahkan menjadi semakin bertambah parah setiap harinya.

Penistaan apa saja yang dilakukan Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsa?

Lembaga kajian Palestina dan kajian Timur Tengah, International Aqsa Institute telah sajikan informasi selengkapnya untuk Sahabat.

 

  1. Menguasai Bawah Tanah Masjid Al-Aqsa.

Israel menjalankan misi jahatnya untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dengan membuat terowongan bawah tanah. Proyek yang dimulai pada tahun 1967 ini terus berlanjut hingga tidak kurang dari 60 lebih terowongan telah di buat Israel di bawah Kompleks Masjid Al-Aqsa hari ini.

Tahapan demi tahapan penggalian dilakukan dengan dalih untuk mencari peninggalan-peninggalan kerjaan Nabi Sulaiman. Padahal Israel memiliki maksud untuk menguasai bawah tanah Masjid Al-Aqsa, sambil menantikan tempat suci ketiga bagi umat Islam itu rubuh, sehingga dapat mendirikan kuil sinagog di atas reruntuhannya.

 

  1. Membagi Kekuasaan di Wilayah Masjid Al-Aqsa

Kekejaman yang terus menerus dilakukan oleh Israel, akhirnya menyulut gerakan intifadha pertama sebagai gerakan perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel.

Pihak Zionis Israel kemudian mencoba meradam perlawanan rakyat Palestina dengan menjalankan sebuah pembagian secara sepihak wilayah Masjid Al-Aqsa antara Israel dan Palestina.

Perjanjian yang didukung Gedung Putih itu menjadi salah satu strategi Israel untuk mendapatkan legalitas menguasai sebagaian Al Quds dari tangan Palestina.

 

  1. Pelarangan dan Kekerasan Terhadap Jama’ah Salat

Upaya Israel untuk menjauhkan umat Muslim dari Masjid Al-Aqsa terus digalakan, salah satunya dengan melarang pelaksanaan salat di Kompleks Masjid Al-Aqsa. Pelarangan ini dilengkapi dengan berbagai macam prosedur yang harus ditempuh oleh warga Palestina yang hendak berziarah dan beribadah di sana.

Anak-anak Palestina tidak bisa masuk menuju Kompleks Masjid Al Aqsa yang dijaga ketat oleh tentara Israel/foto: Aljazeera

Bagi warga Palestina yang diberi kesempatan untuk dapat salat berjamaah pun, tidak luput dari tindakan kekerasan dan penganiayaan yang sering dilakukan oleh tentara Israel yang berjaga di sekitar Masjid.

 

  1. Israel Menjadikan Masjid Al-Aqsa Sebagai Tempat Wisata

Israel membangun tempat hiburan di sekitar area Masjid Al-Aqsa yang diberkahi, hal ini tentunya adalah bentuk penistaan yang dilakukan Israel terhadap tempat suci umat Islam di Yerusalem itu.

Bahkan Israel juga telah membuka terowongan bawah tanah Masjid Al-Aqsa sebagai tempat wisata sejarah bagi bangsa Yahudi, yang ingin mengetahui sejarah dan kedudukan Yahudi di tanah Al-Quds berdasarkan persepsi dari Israel. Untuk mendapatkan legitimasi atas penjajahan yang dilakukannya.

 

  1. Menyita Wilayah di Sekitar Kompleks Al Aqsa

Israel terus mencari cara agar dapat menutup-nutupi proyek penggalian bawah tanah untuk meruntuhkan Masjid Al-Aqsa dengan menyita wilayah-wilayah sekeliling Masjid.

Selain melakukan Yahudisasi di sana, mereka juga berupaya mendirikan pos-pos tempat berkumpul Yahudi untuk memperkuat monitoring dan pengawasan terhadap Masjid. Pendirian bangunan yang mencerminkan Yahudi pun turut didirikan untuk menutupi semua rencana kejahatan mereka.

Baca informasi menarik lainnya: “Khutbah Jumat: Isra Mi’raj dan Kewajiban

 Bela Masjid Al-Aqsa

 

  1. Penyerbuan Terhadap Masjid Al-Aqsa

Tindakan represif yang dilakukan Israel tidak hanya dengan melarang melaksanakan salat di Masjid Al-Aqsa, tetapi tindakan penyerbuan juga kerap kali dilakukan, baik oleh tentara Israel, warga Yahudi, sampai kepada Pejabat pemerintahan Israel sangat sering melanggar peraturan yang mereka buat sendiri dengan mendatangi bahkan menyerbu Masjid Al-Aqsa.

Sikap melecehakan dan tidak hormat juga tercermin dari perlakuan Israel saat memasuki Masjid Al-Aqsa dengan beralas kaki dan sambil menenteng senjata api.

 

  1. Pembakaran Masjid

Pembakaran masjid menjadi tindakan penistaan yang tidak dapat ditoleransi. Terlebih, setelah sang pelaku pembakaran yakni Dennis Michael Rohan seorang Yahudi yang berkebangsaan Australia tertangkap, Israel kemudian membebaskannya dari hukuman dengan alasan bahwa sang pelaku kehilangan akal.

Sejatinya yang kehilangan akal sehat justru adalah Israel, pembakaran Masjid Qibling telah menghanguskan 1500 meter persegi bagian masjid, dan membakar berbagai peninggalan sejarah Islam lainnya, dibebaskan dengan begitu saja.

Pembakaran Masjid Al-Aqsa ini mendapat respon keras dari umat Islam, aksi protes berlangsung di mana-mana, umat Islam di Palestina berbondong-bondong melaksanakan shalat Jum’at di Masjid Al-Aqsa. Berangkat dari peristiwa ini kemudian lahirlah pembentukan Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang beranggotakan 57 Negara, yang kemudian mengecam kejadian pembakaran Masjid suci di Palestina.

Baca juga: Peta Rancangan Palestina Masa Depan Terbongkar!

 

 

  1. Mengklaim Masjid Al Aqsa

Israel juga melakukan klaim dan mengganti sejumlah nama tempat-tempat yang memiliki nilai bagi umat Islam, serta  mengarang sejarah versi mereka sendiri tentang Masjid Al Aqsa.

Perang istilah yang dilakukan oleh Israel bertujuan untuk membangun pemahaman ideologis terhadap doktrin dan sejarah baru tentang Yahudi, agar mendapatkan simpati dan dukungan terhadap rencana pembangunan kuil Sulaiman.  Propaganda penyebaran doktrin ini sangat masif dilakukan lewat media-media, baik itu media cetak, elektronik, maupun media sosial.

 

  1. Penangkapan Tokoh Besar Al Aqsa

Hanady Halawi, salah satu penjaga setia Masjid Al-Aqsa, sudah berulang kali mendapat perlakuan keras dari Israel/foto:International Aqsa Institute

Aksi-aksi protes yang dilayangkan oleh penduduk Palestina terhadap kebijakan sewenang-wenang penjajah Israel juga mendapatkan respon yang tidak menyenangkan dari pihak tentara Israel. Tembakan gas air mata, hingga peluru tajam kerap kali menghujani peserta aksi Palestina.

Para tokoh  penggerak aksi pun turut menjadi sasaran, penangkapan para tokoh Palestina ini diyakini sebagai cara untuk memadamkan api perjuangan rakyat Palestina.

Seperti yang terjadi pada 25 Februari 2019 lalu, tentara Israel menangkap Syekh Abdul Azim Salhab selaku Kepala Dewan Wakaf Muslim di Yerusalem dan Syekh Najeh Bkerat yang menjabat sebagai Wakil Direktur Wakaf Muslim dan Urusan Al Aqsa.

Penangkapan kedua tokoh Palestina yang merupakan pejabat yang bertugas mengawasi situs-situs suci di Yerusalem itu terkait dengan aksi protes di Kompleks Masjid Al Aqsa, Yerusalem Timur.

Penangkapan terhadap tokoh perjuangan Palestina tidak hanya terjadi kali ini saja, para penjaga setia Masjid Al-Aqsa juga kerap kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari para tentara Israel. Seperti yang dialami oleh Hanady Halawi salah seorang penjaga setia Masjid Al-Aqsa atau dikenal sebagai Murabithah, dirinya sering mendapat kekerasan, bahkan pernah ditangkap dan diinterogasi lebih dari 30 kali.

 

  1. Proposal Deal of The Century, Arah Baru Penindasan Masjidil Aqsa.

 Israel bersama sekutunya Amerika Serikat baru-baru ini telah mengeluarkan sebuah wacana proposal Deal of The Century, di mana proposal ini diyakini sebagai solusi atas konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.

Namun, isi dari proposal ini nyatanya menguntungkan Israel dan justru semakin mendiskreditkan Palestina.

Peta rancangan Palestina pada masa depan/foto:International Aqsa Institute

Dalam peta masa depan Palestina yang terdapat di dalam proposal tersebut, menggambarkan bahwa wilayah untuk penduduk Palestina akan dibagi dalam kantong-kantong kecil yang jarak dari satu wilayah ke wilayah lainnya begitu jauh. Sedangkan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa berada sepenuhnya dalam penguasaan Israel.

Dapat kita bayangkan Sahabat, dengan kondisi sekarang ini Israel begitu beringas menjagal kemerdekaan Palestina dan Masjid Al-Aqsa. Apalagi jika rencana Deal of The Century itu diberlakukan. Maka kesewenangan Israel terhadap Masjid Al-Aqsa akan semakin mendapatkan legitimasi secara resmi. (itari/aqsainstitute)

(Sumber: Aspac Palestine)

Komentar

Share this post