Mengapa Rasulullah Saw. Harus Isra dulu Sebelum Mi’raj ?

IAI-Alasan Mengapa Rasulullah Harus Isra dulu Sebelum Mi’raj-www.aqsainstitute.org (1) - Aqsa Institute

Mengapa Rasulullah Saw. Harus Isra dulu Sebelum Mi’raj ?

|”Maha Suci Allah Swt. yang telah memperjalankan hamba-Nya dalam satu malam yang penuh dengan ribuan hikmah dan makna untuk diresapi bersama”

 

Aqsainstitute.org —  Sahabat, tahukah jika peristiwa Isra dan Mi’raj Rasulullah Saw. dilakukan hanya dalam satu malam perjananan? Berpindah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke Sidratul Muntaha, tentu

Namun apakah pernah terpikirkan oleh Sahabat, mengapa Rasulullah Saw. tidak langsung naik ke langit ketujuh? Mengapa harus berpindah dahulu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa? Memangnya, ada rahasia apa yang tersembunyi? Sehingga di malam Isra Mi’raj itu seluruh Nabi dan Rasul terdahulu bermakmum kepada Rasulullah Saw.

Berikut lembaga kajian Palestina, International Aqsa Institute sajikan informasi lengkapnya hanya untuk anda.

 

Mengikat Dua Masjid Suci Yang Diberkahi

IAI-Alasan Mengapa Rasulullah Harus Isra dulu Sebelum Mi’raj-www.aqsainstitute.org (2) - Aqsa Institute

(Keterangan: Masjidil Haram/foto: Republika) 

Di dalam Al Qur’an Surat Al Isra ayat 1 disebutkan bahwa

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Qs: Al Isra: 1)

Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa disebutkan dalam satu ayat yang sama, mengisyaratkan bahwa kedua masjid ini memiliki keterikatan yang erat. Sehingga keberadaannya perlu untuk senantiasa menjadi perhatian umat Islam.

Masjidil Haram merupakan masjid pertama yang berdiri di muka bumi, sedangkan Masjidil Aqsa dibangun menyusul 40 tahun setelahnya. Sehingga secara historis membuat keterikatan kedua masjid ini semakin kental tidak dapat dipisahkan.

 

 

Penobatan Pemimpin Dunia dan Penyambung Risalah Kenabian

Ketika pada malam Isra dan Mi’raj, Allah Swt. menghadirkan seluruh Nabi-nabi dan Rasul-rasul terdahulu yang berjumlah 120.000 Nabi dan 315 Rasul, dimulai sejak Nabi Adam a.s. Semuanya dikumpulkan di Masjidil Aqsa, dan semua Nabi dan Rasul bermakmum kepada Nabi Muhammad Saw.

Para Nabi dan Rasul yang sebelumnya memiliki kedudukan sebagai raja seperti Nabi Sulaiman a.s, Nabi Daud a.s sekalipun berjama’ah diimami oleh Rasulullah Muhammad Saw. Dari peristiwa tersebut menjadikan Nabi Muhammad Saw digelari sebagai imamul anbiya wal mursalin, yaitu imamnya para Nabi dan Rasul.

IAI-Alasan Mengapa Rasulullah Harus Isra dulu Sebelum Mi’raj-www.aqsainstitute.org (3) - Aqsa Institute

(Keterangan: Illustrasi sholat berjama’ah di Masjidil Aqsha/foto: Suara Islam)

 

Kemudian, dipertemukannya Rasulullah Saw bersama para Nabi dan Rasul terdahulu menjadi momentum untuk menyambungkan risalah kenabian yang telah dibawa oleh para utusan Allah sebelumnya dengan khaatamun nabiyin atau Nabi terakhir.

 

Baca Juga: Isra Mi’raj; Mempersiapkan Mentalitas Kepemimpinan Dalam Islam

 

 

Masjidil Aqsa, Kiblat Pertama Umat Muslim

IAI-Alasan Mengapa Rasulullah Harus Isra dulu Sebelum Mi’raj-www.aqsainstitute.org (4) - Aqsa Institute

(Keterangan: Potret sholat Jum’at bersama di Masjid Al Aqsha/foto: Palestinow)

 

Masjidil Aqsa juga tidak dapat dipisahkan dari bagaimana sejarah mencatat sebagai arah kiblat pertama umat Muslim. Juga menjadi kiblat pertamanya bagi para Nabi dan Rasul tatkala menunaikan sholat berjama’ah pada peristiwa Isra dan Mi’raj.

Tidak ada Nabi-nabi dan Rasul yang tidak memiliki keterkaitan dengan Masjidil Aqsa, melainkan Allah hijrahkan ke Baitul Maqdis, begitu pun banyak para utusan Allah yang lahir di Baitul Maqdis, serta berdakwah di Baitul Maqdis.

Dengan latar belakang historis dan keutamaanya yang begitu besar ini menjadi sebuah bukti atas sifat Maha Besar Allah dengan segala rencana terbaikNya, yang dari setiap peristiwa selalu menyisipkan hikmah bagi setiap hamba-Nya. Belajar dari peristiwa ini seharusnya menjadi alasan yang begitu kuat bagi umat Muslim di mana pun berada agar senantiasa dapat terpatri dalam diri rasa memiliki  dan menjaga tempat suci milik umat Islam tersebut. (itari/aqsainstitute)

(Sumber: Khutbah Jum’at Ustadz Ahmad Musyafa, Lc., M.Pd.I)

Komentar

Share this post