Kisah Kepergian Shalahuddin Al-Ayyubi, Sang Pahlawan Besar Masjid Al-Aqsa

Kisah Kepergian Shalahuddin Al-Ayyubi, Sang Pahlawan Besar Masjid Al-Aqsa www.aqsainstitute.org - Aqsa Institute

Kisah Kepergian Shalahuddin Al-Ayyubi, Sang Pahlawan Besar Masjid Al-Aqsa

Kepergian Shalahuddin Al-Ayyubi menjadi kesedihan mendalam bagi kaum muslimin, karena sosok pemimpin yang selalu mencintai dan memperjuangkan kepentingan rakyat telah pergi.

 

aqsainstitute.orgPada tahun 589 H atau 1193 M, Shalahuddin Al-Ayyubi sosok pahlawan yang telah memakmurkan Masjid Al-Aqsa wafat. Sebelumnya ia jatuh sakit selama 12 hari. Kepergiannya telah mengundang kesedihan seluruh rakyat yang ada di Alquds dan sebagian bumi Syam.

 

Shalahuddin dikuburkan bersama pedang yang telah menemaninya berjuang melawan pasukan Salibis. Pedang tersebut akan menjadi saksi perjalanannya selama enam belas tahun di jalan Allah dan berhasil meraih kemenangan-kemenangan besar.

 

Namun tahukah sahabat, dibalik rasa cintanya rakyat terhadap sang pemimpin yakni Shalahuddin, tak lain karena ia memiliki akhlak mulia. Bahkan di akhir hidupnya, Shalahuddin menunjukkan kemuliaan akhlak yang menawan. Berikut Lembaga kajian Palestina, International Aqsa Institute sajikan kisahnya kemuliaan akhlak Shalahuddin di akhir hidupnya.

 

Akhlak Mulia Shalahuddin Saat Sakit

Kisah Kepergian Shalahuddin Al-Ayyubi, Sang Pahlawan Besar Masjid Al-Aqsa www.aqsainstitute.org - Aqsa Institute

Keterangan: Ilustrasi Rombongan Shalahuddin Al-Ayyubi  yang Menemani Perjalanan Terakhirnya (Foto: Mata-mata Dunia)

 

Sebelum meninggal dunia, Shalahuddin Al-Ayyubi terserang demam dan sakit kepala yang sangat berat.  Ia merasakan sakit di tengah jalan ketika hendak pulang dari menyambut jamaah haji. Pada saat itu, ia meminta bantuan kepada orang-orang di untuk memberinya air minum yang hangat karena tidak bisa meminum air dingin atau panas.

 

Tapi orang-orang memberinya air panas, sehingga ia tidak meminumnya. Kemudian orang-orang mengganti air panas itu dengan air dingin. Shalahuddin pun masih tidak bisa meminumnya, lalu berkata, “Berikan aku air hangat” dan tidak berkata lebih dari itu. Biasanya seorang raja di zaman itu, ketika perintahnya tidak dipenuhi, ia pasti marah dan berteriak, bahkan bisa saja menghukum. Akan tetapi Shalahuddin menunjukkan akhlak mulianya, bahkan di detik-detik terakhir ia berjumpa dengan kaum mulimin.

 

Baca Juga : Curahan Hati Hanady Halawani Penjaga Setia Masjid Al-Aqsa

 

Pesan Shalahuddin untuk Pembawa Panji

Kisah Kepergian Shalahuddin Al-Ayyubi, Sang Pahlawan Besar Masjid Al-Aqsa www.aqsainstitute.org - Aqsa Institute

Keterangan: Ilustrasi Pembawa Panji Umat Muslim di Zaman  Shalahuddin Al-Ayyubi (Foto: Ummat Pos)

 

Menjelang wafatnya, Shalahuddin memanggil pembawa panji perang yang selalu dibawa dalam setiap peperangan yang dijalani. Ia memberikan pesan kepada pembawa panji untuk tetap membawa panjinya.

 

Ia berkata, “ Kaulah yang selalu membawa panjiku dalam peperangan. Maka tetaplah membawa panjiku setelah aku tiada nanti. Bawalah panji ini di ujung tomnak Panjang dan bawalah ia berkeliling ke seluruh tanah Syam. Serulah orang-orang agar mereka melihat panji itu, dan katakana kepada mereka, ‘Si raja itu telah tiada, dan ia hanya membawa sehelai kain yang kalian gunakan untuk mengkafani jasadnya. Kain itu adalah kain buatan Luhab seperti potongan kain yang Ahmad di tanganku ini.’ Katakana juga pada mereka, ‘Di antara melimpah yang ada di tangannya, yang bergantung pada izinnya, ia tidak bisa mengambil sedikit pun untuk keperluan dirinya selain kain selebar tiga lengan dari rajutan katun yang kami gunakan untuk melepas kepergiannya ini!”

 

Baca Juga : Keteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi Saat Jadi Pemimpin Alquds

 

Kepergian Shalahuddin

Kisah Kepergian Shalahuddin Al-Ayyubi, Sang Pahlawan Besar Masjid Al-Aqsa www.aqsainstitute.org - Aqsa Institute

Keterangan: Pemakanan Salahuddin Al-Ayyubi di Damaskus (Foto: Flickr)

 

 

Shalahuddin meninggal dunia hanya membawa kain kafan dan tidak meninggalkan harta apapun milik rakyat untuk keluarganya. Ia adalah tokoh luar biasa yang memiliki niat tulus, tawakal kepada Allah, segala perbuatan yang telah di lakukan di dunia adalah semata-mata karena ingin taat kepada Allah.

 

Sehingga wajar saja, kepergiannya membuat hampir seluruh umat muslim bersedih dan mendoakan untuk tempat terbaik bagi Shalahuddin Al-Ayyubi. Semoga kelak di hari perhitungan amal, kita berada di belakang barisan para pejuang agama Allah. Amiin YaRabbal’alamin. (izzah/aqsainstitute)

 

Sumber: Ensiklopedi Palestina

Komentar

Share this post