Curahan Hati Hanady Halawani, Penjaga Setia Masjid Al-Aqsa

Curahan Hati Hanady Halawani, Penjaga Setia Masjid Al-Aqsa

Hanady Halamwany Penjaga Masjid Al-Aqsa (Foto: Aljazeera)

Selama bertahun-tahun Masjid Al-aqsa adalah milik orang Palestina, namun kini Israel ingin merebutnya. –Hanady Halawani

 

aqsainstitute.org – Hanady Halawani adalah salah satu penjaga setia Masjid Al-Aqsa atau yang sering disebut dengan Murabithah. Ia tinggal di lingkungan Wadi Al-Joz. Cukup berjalan kaki selama 15 menit untuk menuju ke masjid Al-Aqsa. Akan tetapi ia tidak bisa mengakses jalan tersebut karena aturan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Israel.

Menurut Hanady, semua yang dilakukan Israel terhadap pendudukan Palestina, di antaranya merampas tanah, waktu, sumber daya, dan Masjid Al-Aqsa merupakan pelanggaran yang telah menyentuh garis merah.

 

Menjaga Alquds

Hanady Halamwani Mengajar Alquran di Kompleks Masjid Al-Aqsa (Foto:@hanady_halawani )

Sejarah Palestina terdahulu Hanady dapatkan dari sang nenek. Mulai dari peristiwa Nakba tahun 1948 yang sudah membuat warga Palestina harus menjadi pengungsi dan semua proyek Zionis Israel yang menargetkan untuk menguasai kompleks Masjid Al-Aqsa, membuatnya bertekad menjadi penjaga Al-Aqsa.

Sejak tahun 2011, Hanady bekerja di sebuah organisasi Gerakan Islam Masjid Al-Aqsa. Organisasi tersebut meluncurkan program pendidikan. Tujuannya untuk menghidupkan kembali majlis ilmu yang telah lama hilang.

Hanady memegang amanah sebagai kordinator program pendidikan tersebut. Hal ini membuatnya mengunjungi Masjid Al-Aqsa setiap hari untuk mengajar. Kontentrasinya dalam bidang agama Islam dan ilmu sosial dapat membantu para siswa.

“Para siswa duduk melingkar di sekitar guru mereka untuk belajar tentang Islam. Program ini ditujukan untuk siswa berusia 18 tahun yang tidak mendapatkan kesempatan mengikuti ujian matrikulasi di universitas mereka.” ujar Hanady

 

Tempat Sentral Kegiatan Belajar-Mengajar

Masjid Al-Aqsa Sentral Kegiatan Belajar Keagamaan dan Ilmu Umum (Foto:@hanady_halawani )

Program pendidikan di Masjid Al-Aqsa mulanya hanya ada 50 siswa perempuan. Pada tahun 2015 jumlah siswa bertambah mencapai 650 laki-laki dan perempuan. Para siswa berusia 18 sampai dengan 70 tahun.

Hanady mengatakan “Selama hampir satu dekade, Masjid Al-Aqsa telah menjadi bagian kegiatan sentral dari kehidupan saya. Bahkan di akhir pekan, setiap hari jumat saya membawa anak-anak untuk menghabiskan waktu di sana. Kami melakukan dzikir dari salat maghrib hingga salat isya.”

Namun sejak tahun 2015, kehidupan berubah drastis tidak seperti biasanya. Penduduk Israel melarang Gerakan Islam dan menutup program-program di dalam Masjid Al-Aqsa. Bukan hanya itu, mereka juga menganiaya semua aktivis.

 

Penangkapan dan Interogasi

Hanady Halamwani Berulang kali Mendapatkan Ancaman Tentara Israel(Foto: Aljazeera)

 Hanady pernah ditampar bersamaan dengan perintah pengusiran. Bahkan ia pernah ditangkap dan diinterogasi lebih dari 30 kali, termasuk suami dan anak sulungnya yang berusia 20 tahun. Selain itu, ia juga dilarang hadir pergi ke luar negeri.

Rumah Hanady pernah digrebek kurang lebih delapan kali. Hal ini membuat anak-anaknya seringkali terbangun di malam hari karena takut rumahnya diserbu kembali.

 

Baca Juga : Sejarah Penetapan Hari Solidaritas Palestina  

Meskipun di dalam penahanan Israel, Hanady tak pernah dinyatakan bersalah karena tidak melakukan kejahatan apapun. Selama interogasi, petugas selalu menuduh bahwa Hanady membuat hasutan untuk menyerukan bela Al-Aqsa, memposting berita tentang serangan Israel di kompleks tersebut.

Setelah Israel melarang Gerakan Islam, mereka juga membuat keputusan bahwa menjadi Murabithah merupakan aktivitas pelanggaran.

 

Kebijakan yang Tidak Adil

Hanady Halamwani dan Murabithah lainnya dilarang Memasuki Masjid Al-Aqsa (Foto: Assabeel)

Hanady menceritakan kisahnya, “Hari ini saya dilarang memasuki Masjid Al-Aqsa. Meskipun jarak dekat dan mendengar Azan, namun tetap saja dilarang. Bahkan selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri pun masih tetap tak diberikan izin memasuki Masjid Al-Aqsa. Bagaimana mungkin seorang putri Alquds, tidak bisa memasuki apa yang menjadi hakku?”

Terakhir, rumah Hanady kembali diserbu dan dihancurkan oleh tentara Israel. Murabithah Hanady Halawani adalah orang yang berpengaruh mendorong dan memanggil penduduk Palestina untuk hadir dan mempertahankan Masjid Al-Aqsa.

Kegiatan Hanady tersebut menghalangi Zionis Israel mengembangkan rencananya untuk mengubah status quo Masjid Al-Aqsa. Itulah yang dilakukan Israel kepada orang-orang yang berani berbicara menentang kebijakan mereka.

Sahabat Aqsa, curahan hati Hanady Halawani tentang perjuangannya yang sangat berani dan luar biasa telah memotivasi kita semua. Sebagai sesama manusia, mari kita kerahkan seluruh kekuatan untuk membela Palestina.(izzah/aqsainstitute)

 

Sumber: Middle East Eye

Komentar

Share this post