fbpx

Sabra Shatila, Tragedi Mengerikan di Pengungsian Palestina

Tragedi Pembantaian Sabra dan Shatila_1 - kajian palestina - www.aqsainstitute.org

Sabra Shatila, Tragedi Mengerikan di Pengungsian Palestina

Belum kering luka lama yang dirasakan pada tragedi pembantaian di Sabra dan Shatila. Peristiwa kemanusiaan yang mengakibatkan ribuan warga Palestina meninggal tragis di pengungsian, adalah kejahatan luar biasa.

aqsainstitute.org – Bagaimanakah sebenarnya tragedi pembantaian yang terjadi di Sabra-Shatila?
Berikut International Aqsa Institute, lembaga kajian Palestina, sajikan untuk anda.

Tragedi pembantaian Sabra dan Shatila terjadi pada tanggal 16 September 1982. Sabra dan Shatila adalah nama sebuah pengungsian di Beirut, Libanon.

Sabra merupakan sebuah pemukiman miskin di pinggiran selatan Beirut Barat, Libanon. Sedangkan Shatila dibangun untuk para pengungsi Palestina sejak tahun 1949. Selama bertahun-tahun penduduk dari kedua wilayah ini menjadi semakin bercampur, sehingga biasa disebut “Kamp Sabra-Shatila”.

Tragedi Pembantaian Sabra dan Shatila_2 - kajian palestina - www.aqsainstitute.org

Keterangan: Penampakan Kamp Pengungsian Sabra-Shatila (Foto: Mina News)

Ketika itu, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mendapatkan jaminan dari Amerika, bahwa warga sipil yang tinggal di pengungsian tersebut akan dilindungi.

Namun jaminan tersebut tidak benar adanya, justru tentara Israel di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Israel (Ariel Sharon), mengepung Sabra-Shatila dan membiarkan para milisi Kristen Maronit Libanon yang dipimpin kaum Phalangis membantai pengungsi di dalamnya.

Sahabat Aqsa, pernakah sebelumnya mendengar ceramah Palestina mengenai tragedi Sabra-Shatila ini? Mengerikan memang. Namun, baik yang sudah atau belum mengetahuinya, tragedi ini adalah pengingat untuk kita bahwa warga Palestina di sana belum merdeka.

Ribuan Korban adalah Orang-orang Tak Berdosa

Tragedi Pembantaian Sabra dan Shatila_3 - kajian palestina - www.aqsainstitute.org

Keteragan: Pembantaian dan Pembuhunan terhadap anak-anak(Foto:qudsonline.ir)

Pembantaian Sabra dan Shatila terjadi selama tiga hari, yakni pada tanggal 16 hingga 18 September 1982. Tragedi ini menelan korban sekitar 3.500 – 8.000 orang, termasuk orang tua, wanita, anak-anak, bayi yang dibantai dan dibunuh secara kejam.

Pembunuhan tersebut secara jelas sengaja dilakukan kepada orang-orang yang tidak bersalah, dan tidak pandang usia.

Kajian Islam Timur Tengah: Sejarah Al-Aqsa dari Nabi Adam Hingga Akhir Zaman

 

Latar Belakang Terjadinya Pembantaian

Tragedi Pembantaian Sabra dan Shatila_4 - kajian palestina - www.aqsainstitute.org

Keterangan: Warga Palestina yang syahid di pengungsian (palwatch.org)

Pada saat itu Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menggunakan Libanon sebagai pangkalan penyerangan kepada Israel. Sehingga tentara Israel menjadikan alasan bahwa pembantaian itu untuk mencari 1.500 personil PLO yang menurut mereka berada di kamp Sabra dan Shatila.

Setelah pembantaian terjadi, Mahkamah Agung Israel membentuk Komisi Cahan untuk menyelidiki pembantaian dan pembunuhan di pengungsian tersebut. Namun, hasil penyelidikannya nihil. Tidak ada nama yang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk juga Ariel Sharon yang kala itu melanjutkan karir politiknya menjabat sebagai Perdana Menteri Israel.

Tragedi Pembantaian Sabra dan Shatila_5 - kajian palestina - www.aqsainstitute.org

Keterangan: Warga Palestina Marah Atas Perlakuan Ariel Sharon (Foto:duniatempo)

Pembantaian Sabra-Shatila bukan yang pertama atau terakhir terjadi. Banyak pembantaian yang dilakukan di tempat berbeda di antaranya Jalur Gaza, Deir Yassin, Qibya, Tantour, Jenin, Al-Quds, Hebron, dan lainnya. Namun, hingga kini tidak ada satu pun komandan atau tentara Israel yang secara resmi bertanggung jawab atas kejahatan dan pembantaian terhadap rakyat Palestina. (izzah/iai)

Sumber: Media Umat News, Republika

Komentar

Share this post