6 Kebijakan Nuruddin Zanki Lahirkan Generasi Pembebas Al-Aqsha

6 Kebijakan Nuruddin Zanki Lahirkan Generasi Pembebas Al-Aqsha

Aqsainstitute.org – Saat umat Islam berada di ambang kehancuran akibat kemunduran, kecintaan akan dunia, pertikaian dan perseteruan,  Pasukan Salib mencari celah untuk memasuki negeri-negeri Islam, menguasai tempat suci dan menduduki Masjid Al-Aqsha.

Geliat kebangkitan Islam mulai terwujud dengan bangkitnya dinasti Zanki di Mosul. Imaduddin Zanki menyusun negara yang kuat membentang dari Mosul hingga Ma’arat An-Nu’man pada 521 H.  Secara tegas, ia menyatakan tekadnya memperkuat fondasi umat Islam dan mempersiapkan diri untuk menghadapi seluruh bahaya yang mengancamnya dari segala arah.

Setelah Imaduddin syahid, posisinya digantikan oleh Nuruddin Zanki. Ia adalah salah satu tokoh yang dididik para ulama dan pengenyam jihad dalam pelajaran-pelajaran ilmu.

Baca juga: Mimbar Nuruddin Zanky

Pada era Nuruddin inilah terjadi perubahan yang besar. Kesultanan Zanki menjadi pusat pertemuan tokoh-tokoh  dan murid-murid madrasah yang memiliki visi reformis.

Nuruddin membuka pintu lebar-lebar bagi setiap orang yang  mau berjuang di jalan Allah. Selanjutnya, kesultanan menempatkan setiap individu atau kelompok untuk melaksanakan tugas operasional sesuai potensi yang dimiliki masing-masing.

Dalam kepemimpinannya, Nuruddin Zanki memiliki enam kebijakan khas yang menjadi salah satu upayanya membangkitkan umat dan melahirkan generasi pembebas Al-Aqsha. Kebijakan-kebijakan tersebut di antaranya:

Pertama, mempersiapkan masyarakat islami, membersihkan kehidupan keagamaan dan budaya dari perngaruh aliran pemikiran yang menyimpang seperti aliran kebatinan, filsafat yunani dan tatacara ibadah serta ritual yang dikembangkan oleh kerajaan Fathimiyah.

Kedua, membangun manajemen pemerintahan yang Islami, meratakan keadilan dan solidaritas sosial.

Ketiga, menghilangkan permusuhan antar madzab, membangun kekuatan-kekuatan Islam dan mengkoordinasi potensi dalam satu pola aksi dan kepemimpinan yang integral serta saling mendukung.

Baca juga: Pejuang Kemenangan Sejati  Lahir dari Masjid-masjid Gaza

Keempat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membangun berbagai fasilitas dan infrastruktur publik.

Kelima, membangun kekuatan militer dan mengembangkan industri perlengkapan perang.

Keenam, menghapus kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di wilayah Syam dan menyatukan kendali pemerintahan Syam, Mesir dan Jazirah Arab.

Lahirnya Shalahuddin

Upaya Nuruddin untuk menelurkan generasi baru pembebas Al-Aqsha pun membuahkan hasil, dengan munculnya salah satu tokoh pembebas Al-Aqsha Salahuddin Al-Ayyubi.

Baca juga: Keteguhan Palestina Runtuhkan Benteng Kokoh Zionis dalam Perang Al-Furqon

Shalahuddin mulai bersentuhan langsung dengan Mu’askar ‘Aqidiy (pasukan yang mengusung nilai luhur aqidah Islam) yang telah melatih diri dengan bekal pemikiran, semangat dan kemiliteran, saat dirinya menyertai pamannya, Asaduddin Syirkuh sebagai panglima tertinggi tentara Nuruddin dalam sebuah ekpedisi ke Mesir.

Singkat cerita, terbentuklah sosok Shalahuddin yang berhasil menaklukkan Masjid Al-Aqsha pada 27 Rajab 583 H atau 2 Oktober 1187 M.

Wallahu ‘alam (history/internationalaqsainstitute)

 

Sumber:, Ensiklopedi Palestina Bergambar karya Dr. Thariq as-Suwaidan Kiblat.net

Komentar

Share this post