fbpx

9 Kunci Sukses Shalahuddin Al-Ayyubi Bebaskan Al-Aqsha

9 Kunci Sukses Shalahuddin Al-Ayyubi Bebaskan Al-Aqsha

Aqsainstitute.org – Al-Aqsha menjadi barometer baik buruknya kondisi umat. Selama Al-Aqsha masih terjajah, maka selama itu pula umat Islam masih dalam kondisi terhina dan mudah dipecah-belah. Sebaliknya, agar kehormatan Islam dapat terwujud maka caranya adalah dengan berupaya semaksimal mungkin mengembalikan Al-Aqsha ke pangkuan muslimin, seperti halnya saat zaman Shalahudin.

Shalahuddin Al-Ayyubi (532-589 H/1138-1193 M) telah menorehkan sejarah besar dengan mengembalikan Al-Aqsha ke pangkuan umat Islam. Tak ditaklukkan dengan mudah, ini dia sembilan kunci kesuksesan Shalahudin bebaskan Al-Aqsha:

Pertama, menjaga Kebersihan Hati (Tazkiyyatun Nafsi). Niat yang lurus, hati yang bersih, serta berorientasi akhirat dan rida Allah semata menjadi modal utama mengarungi perjuangan membela Al-Aqsha dan istiqomah di dalamnya.

Baca juga: Mengikhlaskan Perjuangan Membela Palestina untuk Allah Semata

Kedua, menjaga ketaqwaan kepada Allah dengan salat malam dan menghidupkan sunnah. Bahauddin bin Shaddad, penasehat utama Salahuddin telah menceritakan bahwa ia senantiasa mengerjakan shalat sunnah tengah malam. Ia juga sangat gemar mendengar bacaan Alquran.  Dalam medan pertempuran, Shalahuddin sering kali duduk mendengar bacaan Alquran  yang dibaca para prajurit yang dilawatnya hingga meneteskan air mata.

Ketiga, menjalin hubungan persaudaraan dengan seluruh muslimin, terutama yang sama-sama berada dalam perjuangan membela Al-Aqsha.

Setiap hari Senin dan Kamis, Shalahuddin selalu menyempatkan diri mengikuti pertemuan terbuka yang dihadiri oleh para fuqaha, qadhi (hakim), dan ulama.

Keempat, menumbuhkan kecintaan di hati seluruh muslimin kepada masjid-masjid Allah, khususnya kepada 3 masjid : al-Haram, an-Nabawi dan al-Aqsha.

Kelima, dengan menyiapkan segala kemampuan baik fisik, mental maupun spiritual.

Keenam, mempelajari kekuatan musuh-musuh Allah yang  memerangi Islam dan Muslimin.

Baca juga: Titik Lemah Militer Zionis

Ketujuh, menanamkan optimisme kepada muslimin bahwa Al-Aqsha hanya bisa diraih oleh mereka yang punya  komitmen  sebagai  muslim dan hamba Allah.

“Bagi  Shalahuddin, masalah Al-Aqsha adalah perkara amat besar yang tak kan mampu ditanggung gunung sekalipun. Kehilangan Al-Aqsha bagi beliau laksana seorang ibu yang kehilangan anak yang berkeliling  sendiri untuk mencari anaknya. Beliau memotivasi umat Islam untuk berjihad (merebut kembali Masjidil Al-Aqsha), seraya berkeliling melibatkan diri secara langsung untuk menemukannya” (“Uluww al-Himmah” (Hal: 316))

Kedelapan, menghidupkan kaderisasi umat secara berkesinambungan. Shalahuddin mempersiapkan anak-anak pengungsi Baitul Maqdis untuk jihad fi sabilillah. Yaitu dengan memberi mereka tempat tinggal dan pengajaran yang cukup untuk kembali mengisi perbatasan-perbatasan.

Baca juga: Bagaimana Shalahuddin Merebut Kembali Al-Aqsha?

Kesembilan, secara berangsur, muslimin masuk ke Jerussalem melalui seluruh penjuru pintu yang ada. Pasukan Shalahuddin bergerak menuju Al-Quds melalui jalur Barat. Beliau dan pasukannya mengepung Al-Quds, sehingga pasukan Salib yang berada di dalam kota hanya bisa bertahan. Pengepungan ini berlangsung selama 12 hari, hingga pasukan Shalahuddin dapat melubangi benteng Al-Quds di sisi Timur Laut. (history/internationalaqsainstitute)

 

Sumber: Mi’raj News Agency, Hidayatullah, Syahida

Komentar

Share this post