fbpx

4 Strategi Rasulullah dalam Pembebasan Al-Aqsha

Penaklukan Baitul Maqdis pada masa Rasulullah

4 Strategi Rasulullah dalam Pembebasan Al-Aqsha

Aqsainstitute.org – Ketika bangsa Romawi menguasai al-Quds (sekitar 627/628), Heraclius yang menjadi kaisar ketika itu mengusir orang-orang Yahudi keluar dari kota. Kemudian orang-orang Bizantium membangun kembali gereja-gereja mereka yang sebelumnya telah dihancurkan bangsa Persia. Akan tetapi, kawasan Masjid al-Aqsha dibiarkan kosong dan tidak terurus. Orang-orang Romawi Bizantium ingin membalas dendam kepada Yahudi atas perilaku mereka yang membantu bangsa Persia ketika menyerang Romawi.

Kemudian, Rasulullah Saw. membuat beberapa rancangan lain untuk membebaskan Masjid al-Aqsha, yang akan diteruskan oleh umatnya. Beberapa rancangan tersebut, antara lain:

Pertama, Utusan Rasulullah Saw. Dihyah bin Khalifah  al-Kalbi membawa surat ajakan masuk islam kepada Heraclius, pembesar Romawi. Utusan ini tidak mendatangi Konstantinopel yang menjadi Ibukota Romawi Timur (Bizantium) tapi justru malah datang ke al-Quds yang ketika itu Heraclius sedang berada di sana. Heraclius berada di al-Quds.

Baca juga: Mengapa Nabi Muhammad Bermi’raj di Masjid Al-Aqsha dan Bukan di Masjid Al- Haram?

Akhirnya, ia memerintahkan pasukannya untuk menghadirkan para pedagang Arab yang sedang berada di Gaza, Palestina untuk memastikan siapa yang menulis surat tersebut. Di antara para pedagang Arab tersebut terdapat Abu Suyfan bin Harb, pemimpin Quraisy. Terjadilah dialog hangat antara Heraclius dan Abu Sufyan bin Harb, yang ketika itu belum memeluk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah, sekitar tahun 626 M.

Kedua, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan bergerak ke Mu’tah untuk menghadapi pasukan Romawi. Di antara penyebab terjadinya perang ini adalah dibunuhnya utusan Rasulullah Saw. yang bernama al-Harits bin Umair al-Azdi oleh Surahbil bin ‘Amr al-Ghassani, pemimpin suku Ghassaniyah yang berkuasa di wilayah Palestina dan sekitarnya.

Pada perang yang terjadi pada tahun 629 M tersebut, kaum muslim belum memenangi peperangan. Tiga komandan Islam gugur di medan peperangan. Tongkat kepimimpinan dipegang oleh Khalid bin Walid dan beliau beserta sisa pasukannya berhasil menyelamatkan diri dengan strategi yang jitu. Namun, ada yang berpendapat bahwa perang ini berimbang karena jumlah korban dari pihak Romawi sangat banyak sedangkan dari pihak kaum muslim terhitung belasan saja.

Baca juga: Cinta Rasulullah, Cinta Al-Aqsha

Ketiga, ketika terjadi Perang Tabuk, Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih dari sahabat Auf bin Malik. Beliau bersabda: “Ada enam perkara sebelum datangnya hari kiamat: kematianku: pembebasan Bait al-Maqdis; kematian yang banyak dari wabah binatang ternak; harta yang berlimpah hingga seseorang diberikan seratus dinar tapi dia marah; fitnah tersebar di tiap-tiap rumah Arab; kemudian terjadi  gencatan senjata antara kalian dengan orang-orang kulit kuning (Romawi), lalu mereka berkhianat dan mendatangi kalian dengan delapan puluh bendera kelompok. Setiap satu bendera terdiri dari duabelas ribu pasukan”

Hadis tersebut disabdakan Rasulullah Saw. ketika Perang Tabuk, perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah Saw. Selain memberikan tanda-tanda datangnya hari kiamat, hadis ini juga memberikan pesan kepada umatnya bahwa Masjid al-Aqsha akan direbut oleh kaum muslim setelah kematian beliau. Maka usaha menghadapi Romawi di Tabuk termasuk dalam rencana beliau membebaskan Masjid al-Aqsha di kemudian hari.

Keempat, Rasulullah menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid, anak dari Zaid bin Haritsah yang gugur dalam perang sebelumnya (Mu’tah). Persiapan keberangkatan pasukan ini terjadi pada akhir hayat Beliau. Rasulullah Saw. memerintahkan Usamah berangkat menuju Syam, tepatnya di wilayah Abna-Palestina, yang saat itu masih dikuasai oleh tentara Romawi. Ketika sedang dalam perjalanan, terdengar kabar bahwa Rasulullah telah wafat. Akhirnya pasukan kembali ke Madinah. Setelah Abu Bakar terpilih menjadi khalifah, beliau memerintahkan kembali Usamah dan pasukannya untuk berangkat memenuhi wasiat Rasulullah Saw. sebelum akhir hayatnya.

Baca juga: Titik Lemah Militer Zionis

Wasiat ini disampaikan Abu Bakar di hadapan para sahabatnya. Beliau berkata, “Berangkatlah pasukan Usamah, sesungguhnya aku tidak peduli jika binatang-binatang buas akan menerkam dan mencabik-cabikku di Madinah karena berangkatnya pasukan tersebut. Sesungguhnya telah turun wahyu kepada Nabi Muhammad, ‘Berangkatkan pasukan Usamah!!’, dan aku tak akan mengubah keputusan beliau” Wasiat ini menandakan bahwa Nabi Muhammad Saw mempunyai rencana untuk membebaskan Masjid al-Aqsha dengan melakukan pengiriman pasukan ke Syam. (history/internationalaqsainstitute)

Sumber: Ensiklopedia Mini Masjid Al-Aqsha oleh ASPAC for Palestine

Komentar

Share this post