fbpx

Titik Lemah Militer Zionis

Kelemahan Zionis

Titik Lemah Militer Zionis

Oleh : Ust. Zaenal Masduqi, MA
Peneliti di Intenational Aqsa Institute

Aqsainstitute.org – Mungkin di dunia ini Zionis Israel adalah satu-satunya negara  yang dalam proses berdirinya sangat menghajatkan uluran tangan dari kekuatan di luar dirinya. Tercatat dalam sejarah dari mulai Prancis, Inggris dan PBB telah menorehkan sahamnya bagi mulusnya negara Israel berdiri di tengah-tengah komunitas Arab .

Tahun 1917 terjadi kesepakatan penting antara Prancis dan Inggris dalam membagi wilayah jajahan mereka di wilayah Asia Barat akibat dari kemenangan mereka dalam perang melawan Turki Usmani. Di antara hasil perjanjian itu menyatakan bahwa Nasib Palestina berada dalam naungan Inggris.

Selama 30 tahun dalam menjalankan hasil perjanjian tersebut, Inggris telah memberikan landasan pacu bagi lancarnya gerakan eksodus Yahudi Eropa Timur ke wilayah Palestina. Usaha ini sangat efektif sehingga demografi dan penguasaan tanah Palestina oleh komunitas Yahudi secara sistematis berhasil. Akibatnya Konflik antar dua komunitas ini sering terjadi.

Tahun 1947 Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi nomer 181 yang membagi wilayah Palestina kepada dua komunitas. 54 persen untuk komunitas Yahudi 45 persen untuk komunitas Arab, sedangkan 1 persen nya untuk Yerussalem sebagai kota bebas internasional. Perang antar dua komunitas semakin hebat menyusul ketidak relaan Arab dengan pembagian wilayah  yg menyakitkan tersebut.

Protes dan perlawanan Arab tidak berhasil, malah Negara Zionis berhasil diproklamirkan pada tanggal 14 Mei 1948 oleh Ben Gurion dengan penguasaan wilayah 78 persen dari wilayah Palestina.

Asupan perlindungan dan kekuatan militer kepada negara baru ini menjadikannya sangat cepat dan tepat menguasai kekuatan negara dalam perang 1967 dan 1982.

Dalam perang 1967 Israel berhasil mengalahkan enam negara Arab dalam perang enam hari. Kekuasaan meluas menjadi 90 persen plus Gurun Sinan dan Dataran Tinggi Golan. Lebih mencengangkan LG ketika berperang melawan pejuang Palestina di Libanon  hanya dibutuhkan 3 hari 16-18 September 1982 dengan korban pembantaian 35 ribu pengungsi Palestina di Shabra dan Syatila.

Di sisi lain asupan perlindungan dan kekuatan yg dinikmati Zionis Israel menjadi embrio titik Lemah di masa berikutnya.

Ingin cepat menang dalam perang dan tidak mau rugi dalam perang adalah titik lemah militer Zionis saat ini dalam menghadapi perlawanan faksi-faksi pejuang Palestina.

Hengkangnya militer Zionis dari Libanon Selatan tahun 2000 dan dari Gaza tahun 2005 menjadi bukti bahwa militer Israel tidak mempunyai daya tahan lama dalam menghadapi perlawanan Hizbullah dan Hamas yang setia menghujani mereka dengan roket dan bom syahid. Meskipun banyak tafsir lain tentang peristiwa tersebut.

Perang dengan Hamas tahun 2008, 2012, dan 2014 yang lalu, alih alih berhasil melumat Hamas dalam enam hari seperti dalam sesumbar,  ternyata Israel pulang mundur tanpa hasil dengan menyodorkan terlebih dulu gencatan senjata.

Contoh terbaru disaat militer Zionis berhasil membunuh Noor Barokah, yang kemudian dibalas dengan pengejaran oleh pasukan Hamas yang kemudian berhasil membunuh salah satu perwiranya dan meledakan 1 bus yang berisi tentara Zionis serta menembakkan roket-roket ke Wilayah Zionis Israel.

Perang singkat di Bulan November ini berhenti dengan gencatan senjata yang dimediasi Mesir.

Kesimpulan sementara dari paparan di atas adalah  Zionis Israel akan melakukan gencatan senjata untuk berdamai bila kerugian militer datang mendera kepada mereka tanpa perlu resolusi PBB dan tidak bisa bertahan lama bila perang berkepanjangan.

Wallahu A’lam bis Showab.

Komentar

Share this post