fbpx

Mengapa Nabi Muhammad Bermi’raj di Masjid Al-Aqsha dan Bukan di Masjid Al- Haram?

Mengapa Nabi Muhammad Bermi’raj di Masjid Al-Aqsha

Mengapa Nabi Muhammad Bermi’raj di Masjid Al-Aqsha dan Bukan di Masjid Al- Haram?

Aqsainstitute.org – Sebagian di antara kita mungkin bertanya, mengapa Rasulullah SAW bermi’raj di Al-Aqsha? Seandainya untuk menerima perintah shalat, sangat mudah bagi Allah untuk mengangkatnya langsung, dari Masjid Al-Haram menuju langit ke tujuh.

Isra’ Mi’raj adalah hadiah besar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW, setelah ujian demi ujian berat menghampirinya. Rasulullah diperintahkan untuk melakukajn perjalanan dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang kemudian disebut dengan peristiwa Isra’. Dari Masjid Al-Aqsha, Ia diangkat ke langit ketujuh untuk mendapatkan perintah shalat lima waktu, disebut perjalanan Mi’raj. Sehingga kejadian ini dikenal dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Setidaknya ada empat alasan, mengapa Nabi Muhammad SAW bermi’raj di Masjid Al-Aqsha, bukan di tempat lain.

Pertama, Masjid Al-Aqsha adalah Pintu Gerbang Menuju Langit.

Sebelumnya Nabi Isa A.S. diselamatkan Allah dari kejaran Yahudi, diangkat ke langit dan kelak pada akhir zaman akan kembali diturunkan kembali untuk membunuh Dajjal serta Ya’juj dan Ma’juj. Begitu juga Nabi Muhammad SAW diangkat dan diturunkan kembali melalui Masjid Al-Aqsha.

Kedua, Setiap Pemimpin Dunia Disyaratkan untuk Mengunjungi Masjid Al-Aqsha.

Bahkan Masjid Al-Aqsha merupakan pusat kepemimpinan dunia. Al-Aqsha mengangkat derajat orang yang mengangkatnya. Pusat kerajaan Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman ada di Baitul Maqdis. Seluruh nabi-nabi kalau tidak lahir dan dakwah di Baitul Maqdis, Allah perintahkan untuk hijrah ke Masjid Al-Aqsha.

Nabi Ibrahim A.S. sebelum hijrah ke Baitul Maqdis tidak dikenal (QS. Al-Anbiya: 60), disebutkan dalam bentuk keraguan dan nakirah (umum dan tidak definitif). Tetapi setelah Nabi Ibrahim Hijrah ke Baitul Maqdis, membawa misi Al-Aqsha, Allah sebutkan dengan menggunakan gelar pemimpin dunia, “Aku jadikan engkau (Ibrahim) sebagai pemimpin bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124).

 

Mengapa Nabi Muhammad Bermi’raj di Masjid Al-Aqsha

Keterangan: Masjidil Quba As-Sakhrah (@masjid_al_aqsa/instagram)

Ketiga, Penobatan Nabi Muhammad SAW sebagai Pemimpin Dunia.

Pada malam Isra’ Mi’raj Allah menghadirkan seluruh para nabi dan rasul, mulai dari nabi Adam hingga nabi terakhir. Dalam riwayat hadis disebutkan 124.000 nabi dan 315 rasul dihadirkan di dalam Masjid Al-Aqsha. Seluruh nabi dan rasul shalat berjamaah dan Nabi Muhammad SAW sebagai imamnya, sehingga Rasulullah mendapat gelar imâmul anbiyâ` wal mursalîn (imamnya para nabi dan rasul). Dengan dijadikannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai imam, membuktikan bahwa kepemimpinan dunia yang sebelumnya dipegang para nabi sebelum nya, malam hari itu diwariskan kepada Nabi Muhammad SAW

Keempat, Kiblat Pertama.

Masjid Al-Aqsha merupakan kiblat pertama tidak hanya pada masa Rasulullah SAW., tetapi menjadi pusat ibadah dan kiblat para nabi sebelumnya. Nabi Zakaria bermunajat kemudian dipanggil malaikat untuk diberikan anugerah dari Allah, ketika sedang shalat di Mihrab (QS. Ali Imran: 38-39).

Nabi Muhammad Mi'raj di Masjidil Aqsha

Keterangan: Ka;bah (Foto: wasifjanjua/instagram)

Rasulullah  juga menceritakan, bahwa Nabi Sulaiman membangun (memperbaiki) Masjid Al-Aqsha, kemudian berdoa kepada Allah meminta tiga permintaan; kebijakan yang tepat, kerajaan yang tidak dimiliki orang setelahnya, dan mengampuni seluruh dosa orang yang datang ke Al-Aqsha yang tidak ada niat lain kecuali hanya ingin shalat di dalamnya.

Selama di Makkah, Rasulullah  SAW bersama para sahabat shalatnya menghadap ke Baitul Maqdis, padahal Ka’bah ada di depannya. Sampai 16 bulan pertama setelah hijrah ke Madinah masih menghadap ke Baitul Maqdis. Selain mewarisi kepemimpinan dunia, Rasulullah juga mewarisi risalah kenabian dari nabi-nabi sebelumnya. Estafeta kesinambungan dakwah Islam.

Maka peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi titik tolak perubahan besar dalam diri Rasulullah yang dinobatkan secara resmi sebagai pemimpin dunia, imam dua kiblat, dipilih sebagai manusia terbaik di antara hamba-hamba-Nya yang terbaik (al-mushthafa). Diangkat derajatnya, ditinggikan penyebutan namanya, mengiringi setelah penyebutan nama Allah, wa rafa’nâ laka dzikraka. (QS. Al-Insyirah: 2). (history/internationalaqsainstitute)

Sumber: Ust. Ahmad Musyafa dalam Hidayatullah

 

Komentar

Share this post