Kronologis Pembantaian Penjaga Al-Aqsha, 08 Oktober 1990

Kronologis Pembantaian Penjaga Al-Aqsha, 08 Oktober 1990

AqsaInstitute.org – Pasukan Israel melakukan pembunuhan masal di dalam masjid Al-Aqsha yang menyebabkan 22 orang syahid  dan lebih dari 200 orang luka-luka

Sebelum Hari Pembatantaian:

Beberapa hari sebelum pembantaian, sebuah kelompok ekstrimis Yahudi yang menamai dirinya Organisasi Kuil Suci merilis imbauan kepada seluruh umat Yahudi, untuk menyerbu Masjid Al-Aqsha dalam rangka memperingati “Hari Raya Tahta”.

Hari Pembantaian, Senin 8 Oktober 1990:

Sejak pukul 10 pagi, antek-antek Zionis mulai memasang barikadenya. Pos-pos penjagaan didirikan guna mencegah warga Palestina memasuki Al-Quds.

Imam Masjid Al-Aqsha kemudian menyeru penduduk Al-Quds untuk menghalangi penyerbuan masjid. Namun, ribuan kaum Yahudi telah lebih dulu menyerbu dan menjalankan ritualnya di Masjid Al-Aqsha.

Setengah jam kemudian, dengan jumlah ‘pasukan’ yang terbatas, kaum muslim Al-Quds memberanikan diri untuk melawan dan mencegah penistaan Yahudi terhadap Masjid Al-Aqsha.

Tak hanya tinggal diam, pasukan Zionis menggunakan deretan senjatanya  untuk membantai kaum muslim.

Mereka menyerang dari berbagai lini, serangan dari helikopter, gas beracun, senapan api, terus-menerus diarahkan kepada pasukan pembela Al-Aqsha.

Akibatnya, serangan selama 35 menit tersebut menggugurkan 22 orang mujahid, dan melukai 200 umat muslim lainnya.

Setelah pembantaian:

Pasukan Keamaan Yahudi tak mengizinkan tim medis memasuki Masjid Al-Aqsha. Akhirnya, para korban  terkatung-katung menahan kesakitan. Enam jam kemudian, akhirnya tim medis diizinkan mengevakuasi  jenazah dan korban luka.

Puluhan TahunTerlewati, Peristiwa Kelam Tersebut Masih Terngiang-ngiang di ingatan Keluarga Korban.

Abu Shabih tak dapat menahan air matanya tatkala mengingat peristiwa yang menggugurkan saudara laki-lakinya, Majdi (18).

“Pada malam sebelum kematian Majdi, Ibu saya mengungkapkan keinginannya  agar Majdi segera menikah. Ia menyetujui permintaan tersebut dan meminta dibuatkan kamar dengan warna serba putih”

Setelah genderang seruan pencegahan penyerbuan terdengar, Majdi dan sang Ayah bergegas menutup toko miliknya dan mendatangi Al-Aqsha dengan berbekal alat tempur seadanya.

Majdi tak bisa menghindari bantaian pasukan Zionis, hingga akhirnya terluka parah. Karena tak ada penanganan medis, sejam kemudian ia akhirnya gugur di dalam Masjid Al-Aqsha.

Keterangan foto: Abu Shabih (saudara laki-laki Majid yang menjadi korban pembantaian 8 Oktober 1990), foto diambil dari Aljazeera

Neha Ghorob, penduduk kota Al-Quds mengatakan ” Saya melihat mayat para pemuda bergelimpangan di sekitar Kubah Ash-Shakhrah”

Ia yang merupakan keluarga salah satu korban, menambahkan, “Saya ingat bahwa para syuhada dikuburkan secara rahasia karena takut kaki pasukan pendudukan mengambil jenazah dan menghalang-halangi proses pemakaman….. Itu adalah pembantaian yang tragis”

Keterangan foto: Neha Ghorob (65 thn), penduduk Al-Quds. Foto dari Aljazeera.

 

Sumber: imcpal, aljazeera

Komentar

Share this post