fbpx

Hijrah Ke Negeri Hijrah Akhir Zaman

Hijrah Ke Negeri Hijrah Akhir Zaman

Oleh:
Ahmad Musyafa’

AqsaInstitute.org – Selamat Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1440 H! Semangat baru! Perencanaan peta hidup baru! Optimis dengan pertolongan Allah (subhanahu wa ta’ala)! Hijrah merupakan momentum besar bagi umat Islam. Sehingga Khalifah Umar bin Khattab (radliyallahu ‘anhu) menetapkannya sebagai awal kalenderisasi Islam.

Agar selalu menjadi pengingat. Ada lompatan capaian maha dahsyat dalam kesuksesan dakwah Islam. Tonggak pembatas sejarah; antara periode dakwah Makkah dan Madinah. Antara bertahan dari berbagai tekanan dan membela diri menunjukkan eksistensi. Dari penyiapan pondasi kokoh akidah, menuju pembentukan masyarakat berperadaban dan ekspansi dakwah.

Hijrah fisik telah berakhir. Artinya perpindahan dari satu negeri menuju negeri yang lain sudah usai. Ditandai dengan kemenangan agung Fathu Makkah. “Tidak ada Hijrah pasca Fathu Makkah, tetapi (yang ada adalah) jihad dan niat. Jika kalian diperintah untuk berjihad maka berangkatlah.” (HR. Bukhari). Tidak ada hijrah meninggalkan negeri Islam, yang ada adalah mempertahankan negeri Islam, tanah wakaf Islam hingga hari kiamat.

Itulah kenapa anak-anak penjaga Masjid Al-Aqsha ketika ditanya, “Kenapa kalian tidak hijrah saja dari Baitul Maqdis, ke negeri yang lebih aman?” Jawaban mereka seragam, “Kalau kami tinggalkan Baitul Maqdis, siapa yang akan menjaga tanah suci Islam dan Masjid Suci Al-Aqsha?” Jawaban tanpa keraguan sama sekali. Nyawa dan darah sangat murah bagi mereka demi menjaga kesucian negeri para nabi.

Allah takdirkan negeri ini sebagai tempat untuk menghancurkan kezaliman dan memuliakan pembela kebenaran. Hegemoni Romawi berakhir di sini di tangan Khalifah Umar bin Khattab (radliyallahu ‘anhu). Kaum Salibis setelah berkuasa 90 tahun hancur di sini di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi. Zionis Israel yang berada pada puncak kezalimannya di Baitul Maqdis saat ini, akan menjadi kuburan mereka. Mereka pun menyadari bahwa kuburan mereka ada di Baitul Maqdis. Tetapi siapa yang menggerakkan mereka berbondong-bondong datang ke Baitul Maqdis? Hingga kehancuran Dajjal dan Ya’juj Ma’juj akan berakhir di Negeri Padang Mahsyar ini.

Bahkan negeri ini menjadi negeri tujuan hijrah akhir zaman yang direkomendasikan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Ketika dunia sudah dipenuhi dengan fitnah. Ketika dunia dipimpin oleh tangan-tangan kejam dan zalim (Mulkan Jabbarin). Maka tibalah saatnya hijrah ke negeri yang diperintahkan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam), Baitul Maqdis. Ya, tidak ada negeri yang lebih baik selain Baitul Maqdis ketika datang masa itu.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «سَتَكُونُ هِجْرَةٌ بَعْدَ هِجْرَةٍ، فَخِيَارُ أَهْلِ الْأَرْضِ أَلْزَمُهُمْ مُهَاجَرَ إِبْرَاهِيمَ، وَيَبْقَى فِي الْأَرْضِ شِرَارُ أَهْلِهَا تَلْفِظُهُمْ أَرْضُوهُمْ، تَقْذَرُهُمْ نَفْسُ اللَّهِ، وَتَحْشُرُهُمُ النَّارُ مَعَ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ».

Dari Abdullah bin Amr berkata, Sesungguhnya Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). bersabda: “Akan terjadi hijrah setelah hijrah, sebaik-baik penduduk bumi adalah yang tinggal di tempat hijrah Nabi Ibrahim, dan yang menetap di bumi adalah orang-orang buruk, bumipun mencaci mereka, dan Allah membenci mereka hingga Allah menggiring mereka ke neraka bersama monyet dan anjing.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Al-Hakim)

Imam Ibnu Taimiyah (rahimahullah) menjelaskan hadis ini, bahwa tempat Hijrah Nabi Ibrahim adalah Syam. Setiap penyebutan keutamaan Syam dalam hadis secara otomatis berkaitan dengan Masjid Al-Aqsha. Karena inti kesucian dan keberkahan (Muqaddas wa Mubarak) negeri Syam ada di Masjid Al-Aqsha. Baarakna fihi, Barakna ‘alaihi, Barakna haulahu, yang diberkahi Allah di sekelilingnya. Keberkahannya meliputi negeri Syam keseluruhan.

Kita semua sedang menuju kepada akhir zaman. Fenomena akhir zaman berkaitan erat dengan Baitul Maqdis. Kita semua akan dikumpulkan di Padang Mahsyar setelah hari kiamat. Padang Mahsyar itu ada di Baitul Maqdis Palestina. Cepat atau lambat kita akan ke negeri padang mahsyar. Tinggal bagaimana model kedatangan kita. Apakah tercatat sebagai pembela Baitul Maqdis? Atau tercatat yang menjauhi Baitul Maqdis? Atau tergolong yang berlepas diri dari urusan Baitul Maqdis? Atau termasuk yang menghalangi orang menuju Baitul Maqdis? اللهم استعملنا ولا تستبدلنا

Al-Faqier ila ‘afwi Rabbih

Komentar

Share this post