fbpx

Kisah Cinta Sang Imam di Baitul Maqdis

Kisah Cinta Sang Imam di Baitul Maqdis

Oleh:
Abu Hasan Mubarok
(Peneliti International Aqsa Institute)

Kalender menunjukkan angka 2 Rabiul Awwal 848 H. Manasik haji telah diselesaikan. Hampir setahun penuh Sang Imam menghabiskan waktu di tanah haram, menghirup udara segar, menyetrum jiwa yang gersang, mensuplay rohani yang kerontang.

Tahun 849 H ia sempurnakan kisah di Tanah Haram dengan mengunjungi sang pujaan hati, dambaan perjumpaan setiap insani. Ya, Madinatunnabi. Entah langkah apa yang sekiranya terus membebani, seolah belum begitu afdhal kesempurnaan di tanah yang suci.

Setelah melepas rindu dengan Sang Nabi, meski hanya melihat dari balik tirai yang tersusun rapi di Raudlah. “Itu sebagian dari surgaku”. Kata Sang Nabi dalam hadis sahihnya.

Langkah pun kembali menuju Negeri Tihamah, negeri simbol keperkasaan, negeri bersejarah, negeri simbol kemurnian manusia, negeri tempat agama ini lahir dan telah lahir ajaran sebelumnya, Makkah.

Langkah selanjutnya tertuju pada kota yang dikenal dengan nama Seribu Menara, kota asal muasal penghuni Makkah selanjutnya, Kairo, Mesir. Pulanglah sang imam ke tanah kelahirannya dengan masih berfikir, mengapa dua tanah suci sudah diinjak dan ditapaki nilai-nilainya, namun hati terasa masih sepi.

Baitul Maqdis. Ya, negeri para nabi dan rasul. Negeri asal usul Nabi Agung, negeri awal mula sang kekasih. “Akan kukunjungi Baitul Maqdis, akan kutulis keindahan menaranya, akan kurincikan keutamaan-keutamannya, akan kugambarkan keindahan taman-taman di Masjid Al-Aqsha, akan kusempurnakan perjalananku”, nadzarnya dalam hati.

Maha Benar Allah (subhanahu wata’ala). Dia bersama prasangka hamba-Nya. Tahun 874 H, 37 tahun sebelum wafatnya, Sang Imam sudah ditakdirkan untuk memenuhi nadzarnya dengan mengunjungi Baitul Maqdis, kota yang indah, negeri kebangkitan setelah Hari Kiamat dan dikumpulkannya manusia (padang mahsyar), negeri Isra dan mi’raj, negeri simbol kesempurnaan iman, negeri yang paling dekat dengan pintu langit, negeri yang jauh di atasnya bersemayam Sang Khaliq, di Sidrotul Muntaha.

Keindahan-keindahan itu akhirnya Sang Imam tuliskan dalam karyanya, Ithaf Al-Akhishsha bi Fadhail Masjidi Al-Apqsha. 17 bab menemani para pembaca, membawa mereka ke dunia kejayaan dan simbol kemenangan.

Sang Imam adalah Abdurrahman bin Abu Bakr, Jalaluddin As-Suyuthi. Lahir di Asyuth, daerah dataran tinggi di Mesir. Seorang ulama ensiklopedia dalam banyak ilmu; tafsir, hadis, bahasa, sejarah, kebudayaan, fiqih, dan lain sebagainya. Banyak mengembara untuk menuntut ilmu, dan ketika usia 40 tahun beliau beriktikaf dan membuat diktat dan catatan-catatan. Tercatat karyanya sampai 600 karya. Bahkan Prof. Dr. Ahmad Syarqawi mencatat, jumlah karya Imam Suyuthi mencapai 725 karya.

Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi (849-911 H/1445-1505 M)

 

Komentar

Share this post