fbpx

Para Muslimah Tangguh, Penjaga Al-Aqsha  dan Tanah Palestina

Para Muslimah Tangguh, Penjaga Al-Aqsha  dan Tanah Palestina

AqsaInstitute.org -Palestina sebagai tanah istimewa, ternyata juga dikaruniai perempuan-perempuan istimewa. Perempuan bermental baja yang tak gentar dengan visi utamanya menjaga Al-Aqsha dan Palestina dari kezaliman tangan Zionis.

Latif Abdellatif 

Foto: Jamaah wanita Palestina menunaikan Shalat Jumat dekat Kubah Batu di Komplek Masjid Al Aqsha,Yerusalem.(Ammar Awad/Reuters)

Melindungi Al-Aqsha dari sentuhan tangan para Zionis adalah misi utama seorang Latif Abdelllatif. Perempuan berusia 25 tahun yang merupakan anggota kelompok murabithah (wanita penjaga Al-Aqsha). Ia dan kelompoknya menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam Baitul Maqdis.

Dalam kesepakatan sebelumnya, warga Yahudi boleh datang sebagai turis, namun tidak diperbolehkan untuk beribadah. Hanya umat Islam saja yang diperbolehkan beribadah di Al-Aqsa.Namun hari ini aturan tersebut sudah tak berlaku. Hampir setiap hari kaum ekstrimis Yahudi  menyerbu Al-Aqsha dan beribadah di dalamnya. Penyerbuan tersebut bahkan dikawal ketat oleh pasukan Israel.

Sebelum Israel mengeluarkan larangan terhadap aksi Latif dan kelompoknya, secara rutin mereka berpatroli di sekitar Al-Aqsha dan menyerukan kalimat-kalimat Islam ketika turis Yahudi datang.

Zeina Amro

Foto: Zeina Amro di dalam kompleks Al-Aqsha (Al Jazeera)

Seorang murabithah, Zeina Amro, yang juga seorang guru sekaligus pemandu bagi para peziarah kompleks Masjid al-Aqsa. Dengan misi menjaga Al-Aqsha, wanita paruh baya ini mengedukasi para peziarah tentang sejarah sampai keistimewaan  Al-Aqsha di tengah.

“Tempat ini adalah bagian dari diri saya. Jadi siapa saya ini? Saya ini adalah hanya membantu para peziarah agar bisa lebih dekat dengan Tuhan. Tapi pelarangan menjadi pemandu adalah hukuman paling keras,”. Begitulah pernyataan Amro pada akhir 2017 lalu, setelah Israel melarang para murobithun memasuki Al-Aqsha dengan tuduhan melakukan serangkaian kekerasan di Yerusalem.

Razan Al Najjar

Foto: Razan Al Najjar (kerudung merah) dalam aksi Great Return March (BBC)

Sebuah nama yang sudah tak asing lagi di telinga kita, seorang perawat tangguh yang ikut berjuang membela tanah mulia. Razan Al Najjar, perempuan dua puluh satu tahun itu gugur setelah peluru sniper Israel menembus dadanya pada Jumat (1/6/2018). Ketika itu, Razan tengah menjalankan tugas kemanusiaan dalam aksi “Great March of Return” di Gaza.

Julukan “Malaikat Pelindung” akhirnya tersematkan kepada Razan atas jasa besarnya menyelamatkan para demonstran Palestina yang terluka akibat serangan pasukan Israel.

“Kami memiliki satu tujuan, untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi korban. Dan mengirim pesan ke dunia: Tanpa senjata, kita bisa melakukan apa saja,”. Begitulah penuturan Razan kepada Ayahnya, sebelum ia berpulang.

Lama Khater

Foto: Lama Khater di depan masjid kubatu Ash-Shakhrah (Palinfo)

Lama Khater adalah seorang penulis yang setia menyuarakan penderitaan rakyat Palestina. Lewat opininya tentang politik dan nasionalisme, ia mengkritik berbagai kebijakan yang menindas rakyat Palestina.

Khater merupakan jurnalis terkenal yang banyak menulis artikel soal keseharian warga Palestina. Ia juga kritis terhadap isu-isu kemanusiaan Palestina yang bersumber dari kebijakan Israel.

Pada akhir Juli 2018, aktivis sekaligus ibu dari lima anak ini digiring ke dalam bui dengan tuduhan terlibat dalam aksi teror kepada Israel. Dilansir dari kantor berita Safa, Khater menjadi jurnalis wanita ke-lima yang mendekam di balik jeruji Zionis.

Hanadi Hilwani

Foto: Hanadi Hulwani dekat Masjid Qubbah As-Sakhrah

Hanadi Hulwani seorang aktifis pembebasan masjid Al-Aqhsa  yang telah beberapa kali harus merasakan sengsaranya hidup dalam bui Israel. Ia yang juga seorang murobithah itu tak pernah lelah menyuarakan kekejaman Zionis kepada Palestina.

Tak terhitung sudah berapa kali ia dan kelompoknya diusir paksa dari dalam masjid Al-Aqsha oleh pasukan Israel. Namun ia tak pernah menyerah untuk terus mengunjungi Al-Aqsha sebagai kiblat pertamanya juga muslim di seluruh dunia.

Para muslimah tangguh penjaga Al-Aqsha dengan karakter dan tujuan hidup yang menginspirasi muslimah di belahan bumi lain. Pendalaman terhadap langkah-langkah menjadi muslimah sejati telah dihadirkan dalam sebuah kajian bertajuk “Be a good Muslimah” yang terinspirasi dari keteguhan para muslimah penjaga Al-Aqsha.

     

Kajian yang dimotori oleh International Aqsha Institute ini hadir di beberapa kota di Indonesia, salah satunya Medan dan Bogor. Semoga semakin banyak muslimah-muslimah Indonesia yang mempunyai akhlak mulia bermental baja seperti para perempuan penjaga Al-Aqsha. (history/internationalaqsainstitute)

Sumber: Al Jazeera, BBC, Palinfo

 

 

 

Komentar

Share this post