fbpx

Mengenal Izzuddin Al-Qassam

Mengenal Izzuddin Al-Qassam

Oleh:
Abu Hasan Mubarok
(Peneliti di International Aqsa Institute)

AqsaInstitute.org -Sejarah tidak mencatat perlawanan senjata Syekh Izzuddin Al-Qassam dengan Zionis. Namun semangatnya terus memberikan aroma perjuangan dan perlawanan Bangsa Palestina terhadap penjajahan Zionis. Perlawanan meletus sejak tahun 1936 M, ia pun menjadi figur perlawanan bagi rakyat Palestina sejak saat itu hingga hari ini.

Syaikh Izzuddin Al-Qassam dilahirkan di Jablah, suatu daerah di Selatan Ladziqiyah di Suriah tahun 1882 M, dalam lingkungan yang taat beragama. Ayahnya seorang Guru Al-Quran di lembaga pendidikan miliknya.

Pada usia 14 tahun, Al-Qassam melakukan perjalanan ke Mesir bersama saudaranya, Fakhruddin. Keduanya meneruskan belajar ilmu-ilmu keislaman di universitas tertua dunia, Universitas Al-Azhar.

Selama belajar di Al-Azhar, Al-Qassam mendapatkan inspirasi kuat dari Rektor Universitas Al-Azhar kala itu, Syekh Muhammad Abduh. Bersama Gerakan Nasionalis Kebangkitan melakukan perlawanan terhadap penjajah Britania (Inggris), selanjutnya menetap dan beraktifitas di Mesir, setelah kegagalan revolusi Arab.

Britania menjadikan Syekh Izzuddin Al-Qassam sebagai musuh nomor wahid dalam kolonialisasi Palestina. Syekh Al-Qassam juga mengajak rakyat Palestina untuk melawan hegemoni Zionis yang mulai membesar sedikit demi sedikit, sambil mengajak rakyat Palestina untuk bersatu dan mengesampingkan perbedaan. Beliau selalu menyampaikan bahwa revolusi dengan senjata adalah pilihan satu-satunya untuk menghilangkan penjajahan dan juga hegemoni Zionisme yang sudah berlaku keras dan kasar.

Namun, pada saat itu, gerakan revolusi dengan senjata bukanlah jalur yang tepat bagi partai nasional Palestina. Karena kebanyakan masih menggunakan cara-cara demonstrasi, muktamar, dan diplomasi bawah meja.

Syaikh Izuddin Al-Qasam tercatat pernah menjadi imam masjid Al-Manshur.

Pada tahun 1903, beliau pulang ke kampung halaman di Jablah. Memulai dakwahnya dengan mengajarkan Al-Quran di sekolah ayahnya. Lalu, ditunjuk sebagai imam Masjid Al-Manshur di tanah kelahirannya, di sana, Al-Qassam dikenal dengan ceramah-ceramahnya yang menginspirasi.

Al-Qassam kemudian menjual rumahnya dan meninggalkan kampung halamannya, kemudian bergabung dan membantu perjuangan Umar Al-Baithar melawan Zionis tahun 1919-1920. Sampai akhirnya Al-Qassam divonis hukuman mati oleh Pemerintah Perancis.

Tahun 1921 M, Syaikh Izzuddin pergi ke Palestina bersama sebagian rekanannya. Tinggal bersama dengan para pengungsi di Masjid Istiqlal, Kampung Lama, Hayfa.

Syaikh Al-Qassam bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran untuk menghapus buta aksara yang dominan dalam kehidupan pengungsian. Setiap malam Syaikh Al-Qassam memberikan pelajaran dan pagi harinya melakukan kunjungan-kunjungan ke masyarakat.

Syaikh Al-Qassam menjalin hubungan dengan sekolah Islam, Universitas dan para pemuda di Hayfa. Tahun 1926, Syaikh Al-Qassam dipercaya menjadi rektor di lembaga tersebut. Masa-masa itu digunakan membuat persiapan untuk melawan penjajahan Britania, menggerakkan para petani, dan orasi keagamaan di masjid-masjid, dimulai dari Palestina Utara.

Membentuk Pasukan Khusus

Syaikh Izzuddin Al-Qassam berhasil membentuk pasukan khusus, terdiri dari kelompok kecil sebanyak 5 orang. Kelompok ini kemudian bergabung dengan PLO di Hayfa pada tahun 1932. Semua bantuan dari masyarakat digunakan untuk membeli senjata guna melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Ciri khusus manajemen Al-Qassam sangat rinci dan detail. Terdapat banyak sayap; seperti sayap jihad, satuan dakwah, sayap komunikasi politik, sayap teliksandi, dan sayap pelatihan militer.

Al-Qassam bukan model orang yang bersumbu pendek. Beliau mengatur dan mengelola revolusi dengan perencanaan matang. Mengerti betul kapan bergerak dan menyiapkan. Oleh karena itu, beliau menolak melakukan revolusi secara terang-terangan, belajar dari peristiwa Buraq tahun 1929 M.

Peristiwa yang terjadi tahun 1935 M begitu cepat. Penguasa Britania menekan gerakan Syaikh Al-Qassam di Hayfa. Akhirnya Syaikh memutuskan untuk pindah ke Raif, di mana penduduknya dikenal menerima syariat dan melawan tirani Britania. Maka dimulailah intifadhah bersenjata.

Desa yang pertama kali ditempati adalah Fardan. Dari desa ini diutus delegasi para dai ke daerah-daerah tetangga untuk menjelaskan tentang tujuan revolusi, sekaligus mengajak para relawan, dan gelombang kesetiaan pun berdatangan.

Pasukan militer Britania menemukan persembunyian Syaikh Al-Qassam di Desa Bared tanggal 15 November 1935. Namun Syaikh Izzuddin mampu melarikan diri bersama 15 pengikutnya ke Desa Syaikh Zaid.

Empat hari sesudahnya, tentara Britania memutuskan segala alat telekomunikasi di daerah-daerah tersebut, dan meminta Syaikh beserta para pengikutnya untuk menyerahkan diri. Namun Syaikh menolak sehingga meletuslah perang selama 6 jam dengan para tentara. Peristiwa ini menyebabkan15 orang pasukannya syahid.

Syaikh Al-Qassam gugur bersama pasukannya, adapun pasukannya yang lain menjadi tawanan perang dan sebagian yang lain korban luka. Setahun pasca kejadian ini, terjadi revolusi Palestina secara besar-besaran. Menjadi tonggak Gerakan Nasional Pembebasan Palestina setelah itu.

Sumber: Al-Jazeera

 

 

Komentar

Share this post