fbpx

Sejarah Singkat Kota Al-Quds

Sejarah Singkat Kota Al-Quds

Sejarah Singkat Kota Al-Quds

 

(1).
“Ursalim” merupakan nama pertama Kota Al-Quds, bermakna “Kota kedamaian” atau “Kota yang Damai”. Sedangkan menurut Bangsa Kan`an, berarti Tuhan yang menjaga. Mereka (Bangsa Kan`an) adalah penghuni pertama kota ini lebih dari 2500 tahun SM. Kota Al-Quds juga disebut dengan Kota Yabus, dinisbatkan kepada Bangsa Yabus yang merupakan klan dari Bangsa Arab Kan`an.

(2).
Bani Israil menyebutnya dengan “Ursyalem”, ketika mereka datang dari Mesir ke Palestina tahun 1200 SM. Diambil dari kata “Ursalim”, kemudian dari penyebutan ini muncul Bahasa Latin dengan sebutan “Jerussalem”. Bangsa Romawi menyebutnya dengan nama “Ilia Kapitolina,” atau disingkat “Ilia.” Kemudian pada abad pertengahan disebut dengan nama Baitul Maqdis, karena kota tersebut banyak dipenuhi situs-situs yang disucikan oleh agama-agama. Dari situlah penyebutan Al-Quds.

(3).
Tahun 1000 SM, Nabi Dawud (alayhissalam) menjadikan kota tersebut sebagai ibukota kerajaan, kemudian dilanjutkan oleh putranya, Nabi Sulaiman (alayhissalam) sampai meninggalnya tahun 931 SM. Sepeninggal Nabi Sulaiman (alayhissalam), Al-Quds dibagi menjadi dua bagian; bagian Utara dan Selatan. Bagian utara disebut sebagai Kerajaan Israel dengan ibukotanya Nablus atau Samira. Sedangkan bagian Selatan disebut dengan Kerajaan Yahudi dengan ibukotanya Al-Quds.

(4).
Pada tahun 722 SM, Bangsa Asyuriyah mengancurkan Kerajaan Israel yang berada di bagian Utara dan mengusir seluruh penduduknya. Kemudian pada tahun 587 SM, Raja Babilonia, Nebukatnezar II menjajah dan menghancurkan Kota Al-Quds serta memboyong tawanan Yahudi ke Babilonia (Iraq sekarang). Dalam sejarah Yahudi, peristiwa ini disebut sebagai “Penyanderaan Babilonia”.

(5).
Setelah Bangsa Persia mengalahkan Babilonia tahun 538 SM, Raja Persia bernama Qursy mengizinkan para tawanan Yahudi untuk kembali ke Al-Quds. Sejak saat itu, Palestina dan Al-Quds di bawah kekuasaan Persia.

(6).
Tahun 333 SM, Alexander The Great menjajah Palestina dan Al-Quds yang akhirnya jatuh ke tangan kerajaan Yunani. Lalu, pada tahun 63 SM dijajah kembali oleh Romawi, dan akhirnya jatuh ke tangan Romawi.

(7).
Bangsa Yahudi melakukan revolusi melawan hegemoni Romawi pada tahun 66 M, terus berlanjut hingga tahun 70 M. Kaisar Romawi saat itu, Titus pun menghancurkan Bangsa Yahudi dan membakar kotanya.

(8).
Pada tahun 135 M, Bangsa Yahudi kembali melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Romawi pada masa Kaisar Hadriyan. Akibatnya, Romawi meluluhlantakkan kota Al-Quds dan mengusir seluruh Bangsa Yahudi. Romawi kemudian membangun kembali kota Al-Quds baru, disesuaikan dengan tata letak Kota Lama kemudian disebut kembali dengan nama “Ilia Kapitolina”.

(9).
Dalam pertempuran antara Romawi dan Persia, Persia berhasil menguasai kota Al-Quds tahun 614 M dan menghancurkannya. Mereka membunuh para pemeluk agama Nasrani dengan bantuan orang-orang Yahudi yang tinggal di sana. Sejak saat itu Al-Quds di bawah kekuasaan Persia hingga tahun 629 M. Hingga akhirnya Raja Hiraqlius merebutnya kembali dan mengusir Persia dari Al-Quds.

(10).
Tahun 636 M, Kaum Muslimin menaklukkan Kota Al-Quds dipimpin oleh Khalid bin Walid. Kemudian diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khatab, lalu dikembalikan namanya menjadi Al-Quds atau Baitul Maqdis. Selanjutnya dibangun kembali Masjid Al-Aqsha di tempatnya semula.

(11).
Al-Quds terus berada dalam pangkuan umat Islam selama masa Khulafa` Rosyidun, Daulah Umawiyah, dan Daulah Abbasiyah, kemudian tunduk di bawah kekuasaan Daulah Fatimiyah yang berkuasa di Mesir. Kemudian Eropa menjajahnya melalui Perang Salib Pertama tahun 1099 M. Saat itu umat Islam penduduk Al-Quds yang dibunuh sebanyak 70.000 orang.

(12).
Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskannya kembali pada tahun 1187 M, setelah Perang Hittin. Berbeda dengan orang-orang Salib ketika menguasai Al-Quds, Shalahuddin menjaga nyawa orang-orang Nasrani dan Yahudi, membiarkan mereka hidup bebas beragama, serta mengizinkan mereka yang ingin meninggalkan Al-Quds.

(13).
Ibnu Al-Kamil, anak saudara Shalahuddin Al-Ayubi kalah oleh Imperium Frederik II pada tahun 1229 M, sehingga Al-Quds kembali ke tangan tentara Salib. Namun anaknya yang bernama Najmuddin Ayub berhasil mengembalikan Al-Quds pada tahun 1244 M, setelah memenangi peperangan di Gaza yang dikenal dengan “Hittin Ash-Shughra”.

(14).
Bangsa Tatar kemudian berhasil mengalahkan Daulah Abbasiyah, dilanjutkan menyerang Al-Quds tahun 1258 M dan membunuh mayoritas penduduknya. Tetapi mereka kemudian dikalahkan oleh Dinasti Mamalik yang dipimpin oleh Saifuddin Quthuz di Ain Jalut tahun 1260 M. Mulai saat itu Palestina digabungkan dalam daerah kekuasan Dinasti Mamalik yang menguasai Mesir dan Syam setelah Dinasti Ayubiyah.

(15).
Daulah Usmaniyah kemudian mengalahkan Daulah Mamalik dalam peperangan Maraj Dabiq di Syam Tahun 1516 M, dan di Ar-Raidaniyah di Mesir tahun 1517 M, sehingga Al-Quds menjadi kota di bawah kekuasan Daulah Usmaniyah selama 400 tahun.

(16).
Tahun 1917 M, Jenderal Lanbi menjajah Al-Quds dengan Tentara Militer Inggris yang berada di Mesir. Peristiwa itu terjadi ketika revolusi Arab yang dipimpin oleh Syarif Husain, Raja Hijaz (Saudi Arabia sekarang) yang anti terhadap pemerintahan Turki Usmani tahun 1916 M.

(17).
Tahun 1948 negara Israel berdiri. Akibat perang antara Arab dan Israel tahun 1948, Kota Al-Quds dipecah menjadi dua bagian; Bagian Barat yang tunduk di bawah kekuasaan Israel, dan Bagian Timur tunduk di bawah Pemerintah Yordania.

(18).
Pada perang Juni 1967, Israel berhasil menguasai Kota Al-Quds Bagian Timur juga, setelah mengalahkan koalisi tentara Arab.

(19).
Tahun 2018, Presiden AS, Donald Trump mengakui dan meresmikan Kota Al-Quds sebagai Ibukota Israel.

Penulis:
Dr. Hani Sulaiman

Alih Bahasa;
Abu Hasan Mubarok
[Peneliti International Aqsa Institue (IAI)]

Komentar

Share this post