fbpx

Mengenal Sosok Syaikh Al-Mujahid Al-Haj Amin Al-Husaini, Mufti Agung Palestina

Mengenal Sosok Syaikh Al-Mujahid Al-Haj Amin Al-Husaini, Mufti Agung Palestina

 

Syaikh Al-Mujahid Al-Haj Amin Al-Husaini

Oleh: Abu Hasan Mubarok

(Peneliti di International Aqsa Institute)

International Aqsa Institute– Berbicara tentang negeri Palestina memang tidak bertepi. Di dalamnya terhimpun para pemimpin, ulama, pejuang tangguh, sejak dahulu hingga sekarang.

Sebutlah salah satunya, Syaikh Al-Mujahid Al-Haj Amin Al-Husaini, Mufti Palestina. Beliau dilahirkan pada tahun 1311 H/1893 M di Kota Al-Quds. Beliau termasuk salah satu dari keturunan keluarga Al-Husainiyah yang terkenal di kota Al-Quds, di antara para pendahulu beliau adalah Abdul Qadir Al-Husaini, Kazhim Al-Husainy, Faishal Al-Husainy.

Beliau menempuh pendidikan dasar, menengah, dan atas di kota kelahirannya. Barulah di usia mudanya, beliau belajar menimba ilmu di Negeri Kinanah, di Universitas Al-Azhar Mesir.

Selama di Mesir ini beliau banyak belajar dan membersamai dalam lembaga Daar Ad-Dakwah wa Al-Irsyad, sebuah lembaga yang didirikan oleh keturunan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) juga, Sayyid Rashid Ridha. Namun belakangan beliau lebih memilih untuk tidak menyematkan kata Sayyid di awal namanya.

Selama di Mesir juga, beliau menyempatkan untuk menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Sepulangnya dari tanah suci, nama beliau disematkan diawali dengan sebutan Al-Hajj. Sesuatu yang menjadi tradisi kala itu.

Pada usia 23 tahun, Beliau juga tercatat pernah mengikuti pendidikan kemiliteran di masa Turki Utsmani. Pendidikan militernya diselesaikan tahun 1916. Usia yang memang layak mempelajari tentang kemiliteran.

Setelah Perang Dunia pertama usai, beliau kembali ke Al-Quds. Namun, selang beberapa waktu kemudian, terjadilah pemberontakan-pemberontakan pada tahun 1920. Saat itu kota Al-Quds sudah dikuasai oleh tentara Inggris. Banyak penduduk Al-Quds yang mengungsi keluar negeri, salah satunya adalah pemuda tangguh tersebut.

Beliau pergi menuju Damaskus. Sebenarnya beliau tidak mau lagi kembali ke Al-Quds. Namun, saudaranya yang menjadi Mufti Palestina meninggal dunia pada tahun 1922. Akhirnya jabatan Mufti tertuju kepadanya, dinobatkanlah Syekh Amin Al-Husaini sebagai pengganti saudaranya, kemudian diberikan gelar Mufti Palestina Al-Akbar.

Langkah cepat setelah melihat banyak kondisi umat Islam dan daerah-daerah yang dulunya makmur kini hancur. Akhirnya beliau mendirikan Al-Majlis Al-Islamy Al-A’laa dan beliau menjadi ketua besarnya.

Siasat yang dijalankan tentara Britania Raya terhadap umat Islam dan Al-Quds terbongkar, akhirnya beliau mundur dari jabatan ketua Majlis Al-Islamy Al-A’laa, dan hanya sempat menjabat selama 3 bulan. Akhirnya hanya berkonsentrasi terhadap pengajaran di Raudhatu Al-Maarif Al-Wathaniyah (Taman Pendidikan Nasional).

Akhirnya beliau mengeluarkan fatwa bagi rakyat Al-Quds akan kewajiban melawan hegemoni pemerintah Britania Raya dan campurtangan Zionis di Palestina.

Hingga ada seorang pemuda yang terinspirasi terhadap perjuangan Mufti Al-Husaini. Didirikanlah sebuah lembaga politik nasional dengan nama An-Naadi Al-Araby (Klub Arab). Mufti Al-Husaini didaulat menjadi ketuanya. Gerakan inilah yang akhirnya diikuti oleh banyak orang mendirikan gerakan perlawanan.

Mufti Besar pun ditangkap oleh tentara Inggris ketika sedang berada di kota Al-Khalil. Dituduh sedang menyiapkan demo yang sangat besar menentang kedatangan Komite perjanjian Amerika ke Palestina. Menolak perjanjian Balfour.

Lalu untuk yang kedua kalinya, Mufti ditangkap bertepatan dengan peringatan Nabi Musa, di awal-awal bulan April 1920 M. Namun, ada seorang pemuda yang membantunya dengan cara melakukan penyerangan terhadap pasukan Inggris yang sedang akan  memasukan Mufti ke dalam penjara Maskubiyah. Akhirnya keduanya lolos, lari menyeberangi Laut Mati sampai ke kota Kirkuk.

Dari Kirkuk, menuju Damaskus, berniat ketemu Faishal Al-Husaini, Raja Suriah kala itu. Pengadilan inggris telah menjatuhkan vonis bersalah dan akan menangkapi para pelakunya, yaitu hukuman 15 tahun penjara.

Ketika pemerintah sipil mengganti pemerintah militer. Pada musim panas tahun 1920, rakyat palestina meminta Mufti dibebaskan dan dicabut segala bentuk tuduhan kepadanya. Pemerintah Inggris menyanggupinya dan memohon maaf atas kekeliruan putusan hukum atas Mufti.

Palestina Tanggung Jawab Bersama Umat Islam

Di banyak kesempatan, Mufti Palestina, Syekh Amin Al-Husaini sering mengingatkan bahwa Palestina adalah tanggung jawab bersama umat Islam, tidak hanya bagi bangsa Arab saja.

Ketika beliau memimpin Majlis Al-Islamy Al-A’la, adalah saat yang tepat untuk mewujudkan kedamaian di Bumi Palestina. Beliau merancang agendanya dan menjalankannya. Mulailah beliau melakukan lawatan-lawatan, seperti ke Mesir, Iraq, Arab Saudi, Kuwait, Suriah, dan Lebanon untuk menyampaikan proyek besar umat Islam ini.

Tahun 1931, Mufti mengundang semua pemimpin negara-negara Arab-Islam untuk berkumpul di Palestina, guna membahas isu sentral Palestina. Hari pertama konferensi itu diadakan di Masjid Al-Aqsha yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin dari negara-negara Arab, Afganistan, India, Nigeria, Malaysia, tidak ketinggalan Indonesia.

Tahun 1933, Mufti Palestina mengadakan kunjungan ke berbagai negara Dunia Islam selama 6 bulan, dalam rangka  mengajukan proposal untuk mendirikan universitas Islam di Kota Al-Quds dengan nama Jamia’atu Al-Aqsha, untuk menandingi universitas yang didirikan oleh Yahudi. Namun sebelum cita-citanya terwujud,  Inggris sudah merusaknya dan berhasil dirusak.

Usaha-usaha dan kerja keras tidak lantas berhenti begitu saja. Langkah selanjutnya, Mufti Palestina mengingatkan kepada para warga dan ulama Palestina, untuk tidak melakukan jual beli tanah mereka dengan Zionis. Jual beli tersebut bukan hanya haram, namun juga berakibat kerugian besar pada umat sendiri.

Selanjutnya, Mufti merancang, menyusun, dan melakukan pemberdayaan pemuda-pemuda yang tangguh untuk dikader sebagai penerus peruangan rakyat Palestina. Mulailah beliau mengangkat Abdul Qadir Al-Husaini sebagai panglima angkatan perang. Para pejuang muda ini diberikan ilmu tentang kemiliteran, dibagikan senjata, dan menjaga perbatasan-perbatasan, kampung-kampung, sekolah, dan  masjid.

Sang Mufti juga mendirikan Organisasi Pemuda Palestina. Mereka dipilih dan dididik untuk bisa memikul tanggungjawab dalam rangka mengelola suatu negara.

Sampai suatu ketika terjadi pertemuan luar biasa antara lembaga-lembaga dengan AS, Mufti mengutus beberapa pemuda Palestina untuk menyampaikan aspirasinya, mengungkapkan cita-cita masyarakat Palestina, bahwa mereka memiliki kemampuan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1947.

Tahun 1955, ketika ada Konferensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung, Mufti Amin Al-Husaini menjadi utusan peninjau dari Palestina.

Selanjutnya tahun 1959, Mufti mengunjungi Suriah, Lebanon, dan ikut memindahkan kantor Pusat Otoritas Arab ke Beirut. Dari sanalah kemudian perjuangan Palestina diteruskan sampai beliau wafat pada 4 Juli 1974 dan dimakamkan di makam para syuhada di Lebanon.

اللهم يرحم المفتى واجعل الجنة مثواه واجعل الشباب المسلم يرثون جهوده

Komentar

Share this post