fbpx

Israel Permudah Izin Kepemilikan Senjata Pemukim Yahudi

Israel Permudah Izin Kepemilikan Senjata Pemukim Yahudi

Ilustrasi: motherjones

Aqsa Institute –Menteri keamanan Israel, Gilad Erdan menyatakan bahwa Israel telah mengurangi kriteria untuk dapat memiliki senjata pribadi. Dikutip dari English Palinfo, langkah ini diperkiran akan menyebabkan pemukim Israel berbondong-bondong mengajukan lisensi. Aturan tersebut berlaku untuk pengaju baru maupun yang sudah memegang lisensi

“Veteran unit infantri Israel dan petugas polisi aktif juga dapat mengajukan permohonan izin senjata dengan proses yang mudah”, ungkap Erdan.

Dalam sebuah pernyataan, Erdan mengklaim bahwa “banyak pemukim telah menyelamatkan nyawa selama serangan teror, dan di era serangan “lone wolf (serigala tunggal)“, pemukim negara yang membawa senjata lebih berkualitas, semakin baik kesempatan di sana untuk menghentikan serangan teror tanpa korban dan mengurangi jumlah korban jiwa”.

Dalam aturan lama, hanya orang Israel yang dapat membuktikan bahwa mereka membutuhkan senjata yang memenuhi syarat untuk memperoleh senjata api. Contoh, orang yang tinggal atau bekerja di daerah yang dianggap berbahaya.

Dalam aturan baru, lebih banyak pemukim Israel yang berpotensi diberi hak memegang senjata api, antara lain orang-orang yang bertugas dalam peran tempur Pasukan Pertahanan Israel, semua pejabat letnan yang ditugaskan, pejabat sersan kepala non-komisioning, relawan di unit polisi dan pemukim dari organisasi medis.

Keputusan ini mendapat kritik dari Tamar Zandberg, Ketua Partai Meretz, partai oposisi. “Senjata api adalah mesin kematian yang penggunaan sipilnya harus dikurangi sebanyak mungkin,” katanya.

“Alih-alih berurusan dengan sejumlah besar senjata ilegal di jalan yang membahayakan nyawa manusia, mereka hanya meningkatkan jumlah izin (memiliki) senjata,” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang dilansir Rabu (22/8/2018).

Namun, Erdan, mengklaim bahwa orang Israel yang memenuhi syarat membawa senjata api di depan umum berkontribusi dalam keamanan. Menurutnya, kebijakan ini akan membantu menangani apa yang disebut serangan “lone wolf(serigala tunggal)” yang dilakukan oleh pelaku individu ketimbang oleh kelompok teroris terorganisir.

(history/internationalaqsainstitute)

Komentar

Share this post