fbpx

PENGULANGAN SEJARAH KELAM PEMBAKARAN AL-AQSHA 49 TAHUN LALU

PENGULANGAN SEJARAH KELAM PEMBAKARAN AL-AQSHA 49 TAHUN LALU

Keterangan Foto: Peristiwa dibakarnya Al-Aqsha pada tanggal 21 Agustus 1969

Aqsa Institute –Tepat hari ini, 49 tahun lalu, terjadi peristiwa mengerikan yang tak pernah dilupakan umat muslim di seluruh dunia. Masjid kita Al-Aqsha, kiblat pertama orang muslim, dengan sadisnya dibakar oleh seorang Zionis, dengan dukungan kelompok pemukim ilegal Yahudi yang kemudian tak diungkapkan identitasnya.

Hari itu,  Kamis, 21 Agustus 1969, seorang sesepuh Kristen pro Zionis berkebangsaan Australia bernama Denis Michael Rohan, datang ke Palestina dengan alasan berwisata. Namun kemudian, ia datang dan menyulutkan api di Masjid Al Qibli, bagian dari Masjid Al-Aqsha. Seketika itu terbakarlah bagian-bagian penting dari masjid, termasuk peninggalan bersejarah Mimbar Salahuddin dan Mihrab Zakaria.

Denis berhasil diamankan otoritas Israel, namun sayangnya ia kemudian kembali dibebaskan dengan dalih sakit jiwa.

Ironisnya, sampai detik ini pun Al-Aqsha masih saja membara, meskipun bukan lagi dengan api. Statmen ini dikeluarkan oleh Ketua Komisi Tinggi Yerussalem, Sheikh Ikrima Sabri dalam Palinfo.

Ia menyatakan bahwa kini, bukan api yang membakar Al-Aqsha, melainkan penyerbuan, penggalian,  kesewenang-wenangan, sampai pengklaiman palsu Al-Aqsha oleh pihak Israel menjadi  bentuk baru dari pembakaran 49 tahun lalu.

Keterangan foto: Kondisi di dalam masjid Al-Aqsha pasca dibakar

 

Pembakaran metode baru yang disulutkan Yahudi ini tak cukup hanya dipadamkan oleh air. Apinya kali ini berkekuatan yang sangat mempuni untuk dapat menghancurkan Al-Aqsha .

Kendati demikian masih ada kita, muslim yang dengan segenap kekuatan sedang melawan kezhaliman Zionis terhadap Al-Aqsha dan Palestina. Yang sedang beradu strategi, kekuatan, dan kekompakan melawan Yahudi yang juga tak kalah cerdasnya.

Semoga Allah melindungi Al-Aqsha dan Palestina serta memberkahi kita yang sedang berjuang membela Al-Aqsha.

Sumber: Palinfo, Al-jazeera.

 

 

 

Komentar

Share this post