Reaksi Netanyahu Terhadap Pernyataan Erdogan

netanyahu

Reaksi Netanyahu Terhadap Pernyataan Erdogan

 

Aqsa Institute – Erdogan mengecam keras kebijakan pemerintah Israel, dan menyebutnya sebagai negara paling rasis di dunia. Erdogan juga menyerukan kepada dunia Islam dan Kristen serta negara-negara demokrasi untuk segera begerak menentang kebijakan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden Turki  Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (24/7) dalam pidato di hadapan anggota partainya.

Seperti dilansir dari APF, Erdogan menyebutkan bahwa zionis Israel adalah negara paling rasis dan fasis. “Langkah ini membuktikan bahwa sudah jelas Israel negara di dunia yang paling zionis, fasis, dan rasis,” tutur Erdogan.

Statmen tersebut dikeluarkan terkait persetujuan parlemen Israel terhadap UU Nasionalisme Yahudi pada Kamis (19/07) lalu.  Undang-undang ini menyatakan bahwa hanya warga Yahudi yang punya hak menentukan nasibnya sendiri (right of self-determination) di Israel. Dengan hak ini hanya warga Yahudi bebas menentukan pilihannya di Israel, seperti hak politik hingga hak mengejar kemajuan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya.

“Tidak ada perbedaan antara obsesi Hitler terhadap ras Arya dengan pemahaman Israel bahwa tanah kuno ini hanyalah untuk warga Yahudi”. “Semangat Hitler, yang menyebabkan terjadinya bencana besar dunia, bangkit kembali di antara sebagian pemimpin Israel,” dia menambahkan.

Statmen Erdogan itu akhirnya ditanggapi oleh Perdana Menteri Israel, Benyamin  Netanyahu. Lewat akun Twitter-nya Netanyahu bereaksi dengan menuduh Erdogan mmembantai warga Suriah dan Kurdi serta memenjarakan puluhan ribu warganya.

Dia menambahkan, “Kenyataan bahwa si ‘demokrat besar’ Erdogan menyerang hukum nasional (Israel) adalah pujian terbesar.

Lewat tweet-nya Netanyahu juga mengatakan di bawah kekuasaan Erdogan, Turki menjadi kediktatoran kelam.

“Turki di bawah Erdogan menjadi kediktatoran kelam, sementara Israel berusaha mempertahankan kesamaan hak bagi semua warganya, sebelum dan sesudah hukum (nasional)”.

Ini bukanlah untuk pertama kalinya Erdogan melancarkan serangan kata-kata terhadap Israel. Permulaan tahun ini, Erdogan menyatakan Netanyahu sebagai seorang “pelaku pendudukan” dan “seorang teroris”.

Meskipun sebelumnya sempat menjadi sekutu dekat, Turki memutus hubungan diplomatik dengan Israel pada tahun 2010 setelah 10 pegiat pro-Palestina Turki terbunuh dalam bentrokan dengan komando Israel yang memasuki kapal milik Turki, yang berusaha menembus blokade laut di Jalur Gaza.

Hubungan membaik pada tahun 2016, tetapi diplomat senior masing-masing dikirim pulang pada bulan Mei tahun ini karena pertikaian terkait pembunuhan Israel atas warga Palestina di tengah-tengah unjuk rasa yang terjadi di perbatasan Gaza-Israel. (history/internationalaqsainstitute)

 

Sumber: BBC News

 

 

 

 

Komentar

Share this post