fbpx

Penyerbuan Berkelanjutan Kaum Ekstrimis Yahudi ke Al-Aqsa

Penyerbuan

Penyerbuan Berkelanjutan Kaum Ekstrimis Yahudi ke Al-Aqsa

 

Aqsa Institute – Yahudi menyerbu Al-Aqsa secara berkesinambungan dengan beragam bentuk. Setidaknya 22 ribu pemukim Israel menyerbu Al-Aqsa sejak awal tahun ini (palinfo). Hampir setiap hari terutama pada hari-hari besar Yahudi, Al-Aqsa tak pernah sepi dari serbuan Yahudi baik dari kalangan ekstrimis, pejabat resmi, pihak keamanan dan lainnya.

Pada Ahad, 22 Juli kemarin, penyerangan kembali dilakukan pemukim Yahudi ke Masjid Al-Aqsa. Yahudi menyerbu dan menggelar ritual Talmud di sana. Farah Ddas, penanggung jawab hubungan umum di lembaga Wakaf Al-Quds kepada palinfo menyebutkan bahwa  seribu pemukim Zionis menyerbu Al-Aqsa dan dan mengakhiri ritual mereka di  Gerbang Rahmah. Aksi penyerbuan kemarin juga semakin dinodai oleh peristiwa penangkapan seorang muslim Palestina yang mencoba mengibarkan bendera Palestina di Al-Aqsa.

Diantara para penyerbu kemarin terdapat seorang yang dikenal sebagai tokoh Zionis Radikal, Yahuda Glek. Glek  merupakan seorang Rabbi Israel kelahiran Amerika yang paling getol memperjuangkan pemberian akses bagi warga Yahudi agar dapat mengunjungi kuil Yahudi yang mereka klaim terletak di Masjidil Aqsa.

Sosok Ekstrimis Yahudi satu ini terkait erat dengan ingatan bangsa Palestina tentang aksi penodaan Masjid Al-Aqsa. Dialah yang bekerja intens menghina dan melecehkan perasaan umat Islam dengan menodai tempat suci Islam di Al-Quds.

Pada 2014 lalu, Glek menjadi sasaran penyerangan yang dilakukan oleh seorang pejuang Palestina, Muataz Hijazi. Meskipun terkena luka tembak cukup parah, ia akhirnya pulih dan tak henti menodai Al-Aqsa hingga kini.

Glek merupakan direktur eksekutif The Temple Institute, sebuah kelompok yang mendukung pembangunan Bait Allah Ketiga di Kompleks Al-Haram dan membela apa yang mereka sebut “Bukit Kuil” yang diklaim berada di masjid Al-Aqsha dan Haram As-Syarif yang berusaha dikuasainya.

Penyerbuan sebagai bentuk penistaan ini mendapatkan dukungan secara tidak langsung dari banyak lembaga Israel yang membuat aturan perizinan masuk ke wilayah Al-Aqsa. Meskipun terdapat sebuah larangan dari pihak pembuat dan pengendali kebijakan Israel, agar Yahudi dan Muslim  tidak mendatangi  Al-Aqsa terutama pada hari-hari besar keagamaan, kaum ekstrimis Yahudi sering tidak  mengindahkan peraturan ini. Padahal aturan ini dibuat untuk menghindari bentrok antara Yahudi dan Muslim. Mereka bahkan diberi jaminan keamanan oleh Tentara Zionis.

Kaum muslim sering berupaya mencegah penyerbuan tersebut namun segala bentuk pencegahan itu selalu ditangani pasukan pengamanan Israel dengan kasar. Hukuman berat pun tak segan dijatuhkan pemerintah Israel kepada setiap muslim yang berupaya melakukan pencegahan tersebut. Dalam kondisi ini, kaum muslim sering mengambil pilihan untuk mengalah dan menghindari bentrok dengan petugaskeamanan Israel danYahudi yang menyerbu Al-Aqsa. (history/InternationalAqsaInstitute)

Sumber: Ensiklopedi Mini Masjid Al-Aqsha

 

 

 

 

Komentar

Share this post