Penduduk Khan Ahmar :  Pilihan Kami Hanya Tinggal Atau Mati Di Atas Tanah Ini

Tinggal atau mati

Penduduk Khan Ahmar :  Pilihan Kami Hanya Tinggal Atau Mati Di Atas Tanah Ini

 “Bagaimana jika Anda dipaksa pergi?” Jawabannya jelas: “Kami mati di sini dan kami tidak pergi.” Meskipun takut tindakan pembalasan oleh Khan dan penduduknya jelas, ini tidak berarti bahwa mereka menerima, bahkan jika mereka takut, untuk meninggalkan tanah mereka di tempat lain. Abu Dahuk setelah diwawancara oleh seorang reporter.

Dia melanjutkan: “Kami meninggalkan Negev pada tahun 1948 dan menetap di daerah ini sejak saat itu sampai sekarang. Kami membangun hidup kami dengan penuh perjuangan, dan hari ini mereka berusaha untuk menghancurkan hidup kami sepenuhnya.”

Selama perjalanan kami  banyak berbincang dengan penduduk di sana.  Kami melihat kekuatan dan kepercayaan diri dari mereka. Kepercayaan bahwa mereka berhak atas tanah yang sudah  mereka tinggali sejak lama dan kepercayaan bahwa haram baginya menyerahkan tanah itu kepada zionis Israel. Mereka yakin jalan yang mereka pilih adalah jalan yang seharusnya mereka lakukan menurut perintah Rab-nya. Tak takut kematian, karena ada surga yang menantinya. Tutur wartawan tersebut.

Khan Ahmar dihuni sekitar 180 warga Palestina yang telah diputuskan oleh pengadilan tinggi Zionis untuk dihancurkan pada bulan Mei kemarin, dengan alasan dibangun tanpa seizin pemerintah Israel. Khan Ahmar tidak mendapatkan pelayanan pokok seperti listrik, air, jaringan kominikasi dan jalan-jalan akibat kebijakan larangan yang diberlakukan penjajah Zionis terhadap warga di sana dengan tujuan untuk mengusir mereka.

Disebutkan bahwa penduduk Khan Ahmar berasal dari padang pasir Nagev dan tinggal di pedalaman al-Quds pada tahun 1953 setelah mereka diusir paksa oleh penjajah Zionis dari padang pasir Nagev.

Kawasan badui Khan Ahmar ini dikelilingi oleh sejumlah permukiman Yahudi yang terletak di wilayah yang menjadi target otoritas penjajah Zionis untuk melaksanakan proyek permukiman E1, yang bertujuan untuk menguasai 12.000.000 meter persegi, membentang dari wilayah timur al-Quds sampai Laut Mati. Dengan tujuan untuk mengosongkan kawasan tersebut dari eksistensi Palestina. Yang merupakan bagian dari proyek pemisahan wilayah selatan Tepi Barat dengan wilayah tengah.

Perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil, walaupun belum sepenuhnya. Para pengacara dari Badan Perlawanan Rakyat Anti Tembok Pemisah dan Permukiman Yahudi, Kamis, berhasil memenangkan gugatan sehingga pengadilan tinggi penjajah Zionis mengeluarkan keputusan peninjauan kembali kasus Khan Ahmar dan membekukan penghancurannya hingga 15 Agustus yang akan datang (12/7/2018).

Keputusan ini dikeluarkan setelah pihak  pengacara mendapatkan bukti kepemilikan tanah Khan Ahmar. Dari data yang diserahkan dapat diketahui bahwa tanah tersebut adalah milik pribadi warga Palestina dan telah terdaftar.Tercatat  kepemilikan tanah sejak abad ke 19 Tanah yang kemudian disewakan kepada para pendatang di komunitas Arab Badui dan bukan milik umum. (history/internationalaqsainstitute)

Sumber: paltoday.ps

Komentar

Share this post