fbpx

Rasulullah Larang Datangi Al-Aqsha

Sejarah Singkat Kota Al-Quds

Rasulullah Larang Datangi Al-Aqsha

Oleh: Ahmad Musyafa’, Lc.

 

AqsaInstitute.org – Judul ini bermakna spesifik dan kasuistik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang seorang wanita datang ke Masjid Al-Aqsha. Padahal wanita itu sudah siap-siap berangkat. Keberangkatannya pun bukan karena berangkat anjuran biasa, tetapi merupakan kewajiban kepada Allah subhanahu wata’ala, karena ia bernadzar (janji kepada Allah) jika sembuh dari sakitnya akan shalat di Masjid Al-Aqsha. Sedangkan janji kepada Allah lebih prioritas untuk dilaksanakan. Amal Sunnah yang dinadzarkan, maka menjadi kewajiban.

Pelarangan tersebut bertolak belakang dengan umumnya pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau sering memotivasi umatnya untuk ziarah dan shalat di Masjid Al-Aqsha, karena Masjid ini mempunyai keistimewaan dan keunggulan yang sangat banyak. Tetapi kenapa istri beliau, Sayyidah Maimunah menasehati seorang wanita yang mendatanginya untuk mengurungkan niatnya berangkat ke Al-Aqsha, diganti dengan shalat di Masjid Nabawi?

Kejadian yang hampir sama juga pernah ditanyakan oleh seorang Shahabiyat bernama Maimunah binti Sa’ad, pembantu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Setelah Maimunah meminta fatwa tentang Baitul Maqdis, kemudian Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam menjelaskan, bahwa Baitul Maqdis adalah negeri Padang Mahsyar, datanglah kalian ke Baitul Maqdis, dan shalatlah kalian di sana.

Maimunah binti Sa’ad ternyata tidak puas dengan jawaban tersebut. Sehingga membuatnya bertanya lebih detil lagi kepada Rasulullah Saw., “Jika aku tidak memungkinkan ke Baitul Maqdis, apa yang harus aku lakukan?” beliau pun memberikan jawaban, “Jika tidak bisa datang ke Baitul Maqdis, kirimkan tetesan minyak yang digunakan untuk menyalakan lentera di Masjid Al-Aqsha. Siapa yang melakukannya, maka ia seperti orang yang datang ke Baitul Maqdis dan shalat di sana.”

Dua orang Maimunah adalah simbol kaum hawa yang sangat paham dan mempunyai perhatian besar terhadap Baitul Maqdis. Dua srikandi bernama Maimunah ini juga mewakili kondisi orang yang tidak memungkinkan untuk datang ke Masjid Al-Aqsha, untuk melaksanakan petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kondisi berhalangan itu dapat diganti dengan dua amalan; pertama, mengirimkan minyak atau logistik untuk keperluan penjagaan Masjid Al-Aqsha dan mempertahankannya. Kedua, menggantinya dengan shalat di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram.

Dua petuah Rasulullah shalallallahu ‘alaihi wasallam ini menjadi salah satu pijakan para pakar dan ulama dunia, melarang orang Muslim untuk datang berkunjung ke Masjid Al-Aqsha selama masih dijajah Zionis Israel. Karena mengunjunginya ketika dijajah madharatnya lebih besar untuk bangsa Palestina yang terjajah. Meskipun tidak menimbulkan bahaya apapun kepada peziarahnya.

Mengunjungi Baitul Maqdis dalam kondisi dijajah Zionis Isarel, secara politis dipastikan semakin menguatkan posisi penjajah menggagahi Masjid Al-Aqsha. Secara ekonomi, ketika bekerjasama dengan penyedia jasa tour travel yang bekerjasam dengan penjajah, juga menguntungkan penjajah dan merugikan bangsa Palestina yang terjajah.

Tujuan utama ziarah sesungguhnya adalah untuk shalat di Masjid Al-Aqsha untuk mendapatkan lipatan pahala dan kemuliaan. Tetapi jika diganti dengan amalan lain yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bisa mendapatkan pahala shalat di sana. Ziarah seperti ini sesungguhnya untuk mendapatkan kepuasan pribadi, bisa beribadah di negeri yang diberkahi. Tapi seandainya biaya ziarah diberikan untuk para penjaga Masjid Al-Aqsha, atau istilah Rasulullah shallalahu ‘alahi wasallam disebut dengan “mengirimkan tetesan minyak”, maka potensi pahalanya semakin banyak.

Diantara potensi pahala yang akan didapatkan adalah pahala shalat di Masjid Al-Aqsha, mendapatkan pahala jihad harta, mendapatkan pahala menyelamatkan orang-orang yang dizhalimi, mendapatkan pahala menolong orang-orang lemah, dan pahala yang lain.

Jika motivasi ziarahnya adalah pahala, maka kebijakan Israel yang membuka tutup perizinan ziarah ke Masjid Al-Aqsha bagi orang luar Palestina, sesungguhnya itu bukan permasalahan inti. Tapi inti permasalahan sesungguhnya adalah penjajahan, kezaliman, dan penistaan tempat suci ketiga umat Islam yang dilakukan oleh Zionis Israel yang tidak kunjung akhir.

Teks hadis tentang nadzar bepergian ke Masjid Al-Aqsha dan jawaban dari istri baginda Rasul shallallahu ‘alahi wasallam, Sayyidah Maimunah sebagaimana berikut:

وعن ابن عباس: {أن امرأة شكت شكوى فقالت: إن شفاني الله فلأخرجن فلأصلين في بيت المقدس، فبرأت ثم تجهزت تريد الخروج. فجاءت ميمونة تسلم عليها، فأخبرتها بذلك، فقالت: اجلسي فكلي ما صنعت وصلي في مسجد الرسول صلى الله عليه وسلم فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: صلاة فيه أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد إلا مسجد الكعبة } (رواه أحمد ومسلم )

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Ada seorang wanita mengadu sambil berkata, “Jika Allah menyembuhkanku, maka aku akan pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana.” Wanita itu pun sembuh dari penyakitnya lalu segera mempersiapkan perjalanan. Kemudian ia mendatangi Maimunah isteri Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam)., ia mengucapkan salam atasnya dan mengabarkan tentang perjalanan yang akan ia lakukan. Maka Maimunah pun berkata, “Duduk dan makanlah apa yang kamu inginkan, lalu shalatlah di Masjid Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., karena saya mendengar Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). bersabda: “Satu kali shalat di Masjid Nabawi lebih baik seribu kali dibandingkan shalat di masjid-masjid lain selain Masjid Ka’bah.”

* 1). Direktur International Aqsa Institute (IAI), Divisi Program Koalisi Indonesia Bebaskan Baitul Maqdis (KIBBM), MPO Indonesia for Palestine

 

 

Komentar

Share this post