fbpx

Kisah Nabi Musa  A.S. Dan Kaum Yahudi

Kisah Nabi Musa  A.S. Dan Kaum Yahudi

 Musa Di Mesir

Keberadaan Musa A.S. di Mesir merujuk pada tahun 1250 SM. Allah memperkuat Musa dengan sejumlah mukjizat nyata.  Allah kemudian mewahyukan risalah kepadanya dan memerintahkannya untuk menyampaikan risalah tersebut guna mengeluarkan manusia dari penyembahan terhadap Fir’aun menuju tauhid. Juga untuk mengeluarkan Bani Israil dari Mesir karena mereka diperbudak Fir’aun. Allah memperkuat mukjizat musa dengan kemampuan mengubah tongkat menjadi ular dan tangannya berubah menjadi terang setelah dimasukan ke dalam kerah baju.

Musa menentang Fir’aun di hadapan massa Bani Israil dan orang-orang terhormat dari kaum Fir’aun. Fir’aun mendatangkan para tukang sihir untuk menanggapi tantangan tersebut. Pada akhirnya tantangan tersebut membuat banyak di antara Bani Israil dan tukang sihir Fir’aun beriman kepada Rabb Musa. Kemudian Allah mewahyukan bahwa Fir’aun akan membunuh Musa dan para pengikutnya. Akhirnya mereka meninggalkan Mesir dan bermigrasi ke Palestina.

Allah membelah lautan untuk Musa dan pengikutnya, dan menenggelamkan Fir’aun yang berusaha menangkap Musa

Kisah Nabi Musa

(fakta-dunia.blogspot.com)

 

Musa di Saina

Setibanya Musa dan kaumnya di Saina, mereka mendapati kaum yang menyembah berhala. Pengikut Musa kemudian meminta agar mereka dibuatkan berhala sesembahan seperti orang-orang Saina. Musa  heran dengan permintaan kaumnya dan mengatakan mereka bodoh. Setelah melihat berbagai kekuasaan Allah lewat mukjizat Nabi Musa, mereka menginginkan berhala sebagai sesembahan mereka padahal Musa telah menyeru untuk beribadah kepada Allah. Inilah awal mula kerusakan iman yang mengakar dalam jiwa mereka. Kekafiran dan perbudakan telah menyerap ke dalam jiwa Yahudi  dalam kurun waktu sangat lama yang mereka lalui untuk mengabdikan diri kepada raja-raja Mesir Kuno.

 

Gunung Thur

Setelah itu Musa pergi ke Gunung Thur di Saina selama empat puluh hari  untuk bermunajat kepada Allah. Harun diamanahkan untuk memimpin kaumnya sementara beliau pergi ke Thur. Saat kembali, Musa mendapati kaumnya telah menyembah patung anak sapi.  Kemaksiatan itu adalah kejahatan yang paling besar, kekafiran yang tidak terampuni itu membuat Allah menghukum mereka dengan menjadikan bunuh diri sebagai taubat mereka. Sepeti yang tertulis dalam Q.S AlBaqarah: 54

Kisah Nabi Musa

(ehabwet.net)

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

 

Syari’at mereka menyatakan bahwa taubat dari kesyirikan dan kekafiran harus disertai bunuh diri. Bunuh diri adalah bentuk taubat dari kesyirikan dan kekafiran lalu setelah itu dibalas dengan surga, namun mereka menolak. Kemudian ancaman Allah datang dengan mengangkat gunungThur dan membuatnya seolah akan menimpa mereka. Akhirnya mereka berkata “Kami dengar dan kami taat”

Kemudian Musa memilih tujuh puluh orang terbaik di antara kaumnya untuk memohon taubat pada waktu yang telah ditentukan Allah di gunung Thur atas kemaksiatan-kemaksiatan yang telah mereka perbuat. Tetapi mereka tidak dengan mudah beriman kepada Allah dengan memintaMusa untuk menunjukan mukjizat yang lain. Allah pun menyambar mereka dengan halilintar. Lalu Musa bermunajat kepada Allah seraya menuturkan bahwa mereka adalah orang-orang terbaik dari kaumnya. Allahpun menghidupkan mereka kembali untuk memuliakan Musa.

 

Musa di Palestina

Saat Musa dan kaumnya tiba di gerbang pintu Palestina, Musa memerintahkan mereka memasuki Baitul Maqdis. Lalu mereka menjawab:

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”. (Q.S Al-Maidah:22)

Harun dan Musa menasihati mereka bahwa Allah akan menolong mereka. Lalu mereka menjawab “Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”.” (Q.S Al-Maidah: 22)

Pasca kejadian ini Allah memutuskan untuk mengharamkan Baitul Maqdis untuk mereka masuki selama empat puluh tahun dan mereka akan kebingungan mengebara di bumi.

 

Kisah sapi Betina

Kisah Nabi MUsa

(arabrationalist.net)

Di sela waktu kebingungan ini, terjadi kisah sapi betina yang Allah perintahkan kepada mereka untuk disembelih. Mereka mengulang-ulang pertanyaan untuk semakin mempersulit dengan maksud untuk tidak melaksanakan perintah tersebut. Hingga akhirnya Nabi Musa mengambil salahsatu bagian tubuh sapi betina yang sudah tergolek tak bernyawa dan mereka tidak mengetahui siapa yang telah menyembelihnya. Dengan izin Allah, sapi itu dihidupkan kembali dihadapan mereka dan menyebutkan nama orang yang membunuhnya.

Walaupun telah ditunjukan kuasa Allah lewat Nabi Musa itu, tak lantas membuat mereka taat. Allah menuturkan banyak sekali kisah Bani Israil dan kejahatan mereka dalam Al-Qur’an. Kisah tentang bagaimana kaum Yahudi sudah terbiasa berdusta  dan berkhianat sehingga itumenjadi sifat asli mereka.

 

Bingung dan Terlantar

Hati keras seperti hati Bani Israil tidak bisa diharapkan berbelas kasih barang hanya sehari. Mereka menampakan sesuatu tidak seperti apa yang mereka tutup-tutupi. Itulah sifat mereka yang tercermin dari kisah-kisahnya dalamAl-Qur’an.

Empat puluh tahun mereka habiskan dalam kebingungan, selama itu pula mereka mendurhakai Allah dan tidak mau menjalankan perintah-Nya padahal Musa membersamai mereka sebagai utusan Allah. Kemudian Allah mengutus malaikat maut kepada mereka dan memberikan pilihan untuk terus hidup atau  mati kepada mereka. Musa berkata “Ya Rabb wafatkanlah aku di dekat Baitul Maqdis” Kemudian Musa diwafatkan sejauh lemparan batu dari Baitul Maqdis. Sementara itu meski sudah dekat, Bani Israil tidak tahu jalan menuju Baitul Maqdis, padahal mereka hanya terpisahkan oleh sebuah bukit merah. Mereka terus melanggar dan tidak bisa keluar dari situasi kebingungan.

Kebingungan dan keterlantaran yang dialami Yahudi di muka bumi selama empat puluh tahun bertujuan agar membinasakan kaum kafir dan pembangkang dan setelah itu muncul generasi lain yang dididik para nabi. Bani Israil tetap berada dalam kebingungan sampai Allah mengeluarkan mereka melalui Nabi Khadir. Ia adalah Nabi Yusya’ bin Nun. Yusya’ akhirnya mengeluarkan mereka ke Urdun.

Betapa berat perjuangan Nabi Musa menghadapi kaum Bani Israil yang terbiasa ingkar, dan membangkang kebenaran. (history/internationalaqsainstitute)

 

 

Sumber: Ensiklopedi Palestina Bergambar, Judul Asli: Filasthin; At-Tarikh Al-Mushawwir karya Dr.Thariq As-Suwaidan

 

 

 

Komentar

Share this post