MALAIKAT JIBRIL DAN MASJID AL-AQSHA

MALAIKAT JIBRIL DAN MASJID AL-AQSHA

Oleh: Ahmad Musyafa’, Lc.

 

AqsaInstitute.org – Setiap bulan Ramadhan, Malaikat Jibril a.s. mendatangi Nabi Muhammad Saw., mengajarkan Al-Quran kepada beliau. Ini merupakan salah satu keistimewaan bulan suci Ramadhan, syahrul Al-Quran.

Khusus Ramadhan terakhir dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw., Malaikat Jibril a.s. mendatanginya dua kali. Memeriksa seluruh wahyu Al-Quran yang telah diajarkan kepadanya. Memastikan bahwa seluruh surat dan ayat sesuai dengan apa yang difirmankan Allah Swt. Tidak ada kesalahan sedikitpun dari hafalan Nabi Muhammad Saw.

Saat awal perjumpaan dengan Malaikat Jibril, ketika Rasulullah Saw. menerima wahyu pertama di Gua Hira. Rasulullah Saw. ketakutan. Menggigil gemetaran. Pulang ke rumah sembari meminta diselimuti oleh istrinya tercinta, Sayyidah Khadijah r.a., zammilûni zammilûni.

Tetapi selanjutnya, Malaikat Jibril a.s. sangat dirindukan kehadirannya oleh Rasulullah Saw. Kehadirannya menyenangkan hati Nabi Muhammad Saw. Tentu kita ingat hadis kedua dari Buku Hadis Al-Arbain An-Nawawiyah, bagaimana Malaikat Jibril a.s. mendatangi Rasulullah Saw. bersama dengan para sahabat, mengajarkan Iman, Islam, dan Ihsan.

Kerinduan Rasulullah Saw. kepada Malaikat Jibril a.s. sang pembawa wahyu ini memuncak pada saat beliau dilanda kesedihan sangat mendalam. Peristiwa ‘âmu al-huzni, tahun kesedihan. Ditinggal wafat isteri yang sangat dicintainya dan pamannya sebagai sandarannya. Ditambah lagi wahyu tidak turun cukup lama. Saat inilah kesedihan memuncak dan merindukan kehadiran Jibril membawa wahyu Allah.

Malaikat Jibril a.s. pun datang membawa QS. Adl-Dluha dan QS. Al-Insyirah. Kedua surat ini mengangkat kembali semangat hidup Nabi Muhammad Saw. Bahkan kedua surat ini mengangkat kedudukan Nabi Agung dan Mulia. Wa rafa’nâ laka dzikrak (dan kami angkat penyebutanmu). Penyebutan nama Nabi Muhammad Saw. mengiringi setelah penyebutan nama Allah Swt. لا أله إلا الله، محمد رسول الله (tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Dan Muhammad adalah utusan Allah).

Setelah peristiwa ini, terjadi peristiwa dahsyat, perjalanan teragung Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsha. Dilanjutkan dari Masjid Al-Aqsha menuju langit ke tujuh untuk langsung bertemu dengan Allah. Untuk menerima perintah Shalat. Siapakah yang setia mendampingi perjalanan suci ini? Dialah Malaikat Jibril a.s.

Malaikat jibril

Note: Al-Aqsha berarti “Jauh”. Dikatakan jauh karena posisinya sangatlah jauh dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Jarak antara Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsha (Palestina) jika ditempuh dengan berjalan kaki memakan waktu selama satu bulan pada saat itu.

 

Perjalanan ini membuka tanda-tanda kekuasaan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. (li nuriyahû min `âyâtinâ). Menunjukkan kedudukan Nabi Muhammad Saw. yang luar biasa di sisi Allah. Tidak pernah ditinggalkan-Nya (mâ wadda’aka Rabbuka wa mâ qalâ). Di Masjid Al-Aqsha Nabi Muhammad Saw dipertemukan dengan para kekasihnya; Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan seluruh nabi dan rasul.

Untuk itulah Nabi Muhammad Saw. setiap malam mengingat peristiwa ini menjelang tidurnya. Menautkan hatinya dengan Masjid Al-Aqsha, panggung pelantikannya menjadi pemimpin dunia. Karena di masjid ini Rasulullah Saw. mengimami seluruh nabi dan rasul. Shalat jamaah terbaik sepanjang sejarah kemanusiaan, imamnya Rasulullah Saw. dan makmumnya seluruh nabi dan rasul.

Kalau ada orang yang memakai sepatu kotornya masuk ke dalam masjid dekat rumah kita, sontak kita memperingatkan bahkan kita marah. Karena masjid adalah tempat suci kita. Di situlah tempat sujud kita. Tempat meletakkan dahi kita. Tempat menghembuskan nafas ketundukan di hadapan Allah Swt.

Relakah kita, melihat kaki kotor Zionis Israel menginjak-injak tempat sujud Nabi Muhammad Saw. dan juga para anbiya. Setiap jengkal tanah Masjid Al-Aqsha adalah tempat meletakkan dahi manusia-manusia pilihan Allah. Tempat menghembuskan nafas mereka ketika tunduk dan sujud di hadapan Allah Swt. Apa yang akan kita jawab ketika kita diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah? Apa yang telah kalian lakukan demi menjaga tempat suci ini? Kenapa kalian membiarkan Masjid Suci ini dinistakan Yahudi?

Yahudi sangat membenci Malaikat Jibril a.s. Begitu juga Malaikat Jibril sangat membenci dan melaknat Yahudi. Mengingatkan kita pada peristiwa Perang Ahzab. Sepulang Rasulullah Saw dari Perang Ahzab, baru saja meletakkan senjata dan melepas pakaian perangnya, datanglah Malaikat Jibril a.s., memanggil Nabi Muhammad Saw., “Wahai Muhammad! Sesungguhnya para malaikat belum meletakkan senjatanya. Angkat kembali senjatamu, kepung dan usir Bani Quraizah!.”

Rasulullah Saw. langsung bergegas dan menyeru kepada para sahabat, “Jangan ada diantara kalian yang Shalat Ashar, kecuali di Bani Quraizhah.” Lihatlah! Malaikat Jibril a.s. yang menyerukan perang untuk mengusir Bani Quraizhah. Siapakah Bani Quraizhah? Mereka adalah kelompok Yahudi Madinah yang berkhianat, berkomplot dengan pasukan musuh di Perang Ahzab, berusaha menikam pasukan Rasulullah Saw. dari belakang.

Mari kita penuhi hari-hari ibadah Ramadhan kita dengan selalu mengaitkan dengan Masjid Suci Al-Aqsha. Ketika kita shalat? Ingat! Syariat shalat ini tidak lepas dari Masjid Al-Aqsha. Ketika tilawah Al-Quran, ingat! Pembawa wahyu Al-Quran ini adalah Malaikat Jibril, sangat kuat terikat dengan Masjid Al-Aqsha. Wallahu a’lam bishawab.

* 1). DIrektur International Aqsha Institute (IAI), 2). MPO Indonesia for Palestine, 3). Anggota Koalisi Indonesia Bebaskan Baitul Maqdis (KIBBM)

Komentar

Share this post