Daftar Kekerasan dan Penistaan Zionis Israel Terhadap Masjid Al-Aqsha Sejak 1967-2017

Penistaan ZIonis Israel

Daftar Kekerasan dan Penistaan Zionis Israel Terhadap Masjid Al-Aqsha Sejak 1967-2017

 

International Aqsa Institute – Sejak pendudukan al-Quds timur pada tahun 1967, masjid al-Aqsha dan mushala-mushala yang ada di area masjid mengalami banyak insiden kekerasan dan pelanggaran yang dilakukan penjajah Zionis Israel.

 

Bentuk serangan dan pelanggaran yang terjadi di area masjid al-Aqsha beragam mulai penyerbuan yang dilakukan para menteri dan anggota parlemen Knesset, anggota polisi dan para pemukim pendatang Yahudi, serta upaya mereka untuk melakukan ritual keagamaan di dalamnya, yang memprovokasi perasaan para jamaah yang bersiaga di dalamnya secara khusus dan warga Palestina pada umumnya. Ditambah lagi serangkaian keputusan yang dibuat penjajah Zionis yang dirancang untuk mendominasi dan membagi masjid al-Aqsha secara waktu dan tempat antara kaum  Muslimin dan Yahudi.

Berikut daftar kekerasan dan penistaan Zionis Israel terhadap masjid Al-Aqsha Sejak 1967-2017

7 Juni 1967: Jenderal Mordechai Gur besama tentaranya memasuki Masjid al-Aqsha pada hari ketiga awal perang tahun 1967. Mereka mengibarkan bendera Zionis di Kubah Shakhrah dan membakar mushaf-mushaf Al-Quran. Mereka melarang jamaah shalat di dalam Masjid Al-Aqsha dan menyita kunci pintu-pintu masjid.

15 Juni 1967: Kepala Rabbi senior di tentara Zionis, Shalomo Goren bersama lima puluh pengikutnya menggelar ritual di area Masjid Al-Aqsha.

Tahun 1968: Penjajah Zionis mengeluarkan keputusan untuk menyita tanah Palestina di di al-Quds dan propertinya. Mereka mengklaim bahwa itu tanah tersebut adalah “tanah negara” meskipun ada para pemilik aslinya. Selanjutnya, sejak saat itu tanah-tanah tersebut disita dalam konteks keputusan untuk menyita tanah seluas 3345 hektar.

21 Agustus 1969: terjadi pembakaran Masjid Al-Aqsha dan penangkapan seorang turis Yahudi asal Australia atas aksi pembakaran yang dilakukan.

 

Zionis Israel

Kondisi di dalam Masjid Al-Qibly setelah terjadi peristiwa pembakaran oleh turis Yahudi asal Australia

 

2 November 1969: Wakil Presiden Zionis Israel “Eival Alon” dan pembantunya menyerbu Masjid Al-Aqsha.

28 Januari 1976: Pengadilan Pusat Israel memutuskan bahwa orang Yahudi memiliki hak untuk beribadah di dalam Masjid Al-Aqsha.

13 Januari 1981: Para anggota gerakan “Temple Mount Faithful” dan kelompok-kelompok lain menyerbu Masjid AL-Aqsha dan mengibarkan bendera Zionis dengan Taurat.

28 Agustus 1981: Ditemukan terowongan yang digali penjajah Zionis di sepanjang bahwa Masjid Al-Aqsha dimulai dari Tembok al-Buraq (tembok barat Masjid Al-Aqsha yang kemudian dirubah oleh penjajah Zionis sebagai “Tembok Ratapan”).

Zionis Israel Terhadap Al-Aqsha

Penggalian yang dilakukan di bawah masjid Al-Aqsha menyebabkan halaman dari Masjid Al-Buraq rusak dan Amblas

24 Februari 1982: Ketua Gerakan “Temple Mount Faithful”, Guoshun Salmon menyerbu masuk area Masjid Al-Aqsha.

11 April 1982: Seorang prajurit Zionis bernama “Harry Goldman” melepaskan tembakan secara membabi buta di dalam Masjid Al-Aqsha, yang menyebabkan dua orang Palestina gugur dan lebih dari enam puluh orang lainnya luka-luka.

25 Juli 1982: Salah seorang aktivis gerakan Kach, “Yoel Lerner”, ditangkap setelah merencanakan aksi untuk meledakkan masjid Kubah Shakhrah.

20 Januari 1983: Pembentukan sebuah gerakan ekstremis di “Israel” dan AS yang misinya adalah untuk membangun kembali “Temple Mount” di lokasi Masjid Al-Aqsha.

26 Januari 1984: Dua orang Yahudi memasuki Masjid Al-Aqsha dengan membawa peledak dan granat tangan dalam jumlah besar untuk meledakkan masjid Kubah Shakhrah.

11 Mar / Maret 1997: Jaksa Agung senbagai penasehat hukum pemerintah Zionis Israel mengizinkan orang-orang Yahudi untuk beribadah di dalam Masjid Al-Aqsha setelah berkoordinasi dengan polisi Zionis.

31 Agustus 1997: Terungkap adanya rencana Zionis untuk membongkar istana Umayyah yang berdekatan dengan Masjid Al-Aqsha dan melakukan perluasan “Tembok Ratapan”.

11 Januari 2000: Mahkamah Agung Zionis memutuskan bahwa tingkat politik bertanggung jawab untuk memutuskan dalam persoalan Masjid Al-Aqsha.

28 September  2000: Ariel Sharon menyerbu Masjid Al-Aqsha, peristiwa yang kemudian memicu meletusnya Intifadhah Al-Aqsha.

 

Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha

Intifada kedua 28 September 2000

 

29 September 2000: Pasukan penjajah Zionis Israel melakukan pembantaian baru terhadap jamaah di Masjid Al-Aqsha yang mengakibatkan puluhanan jamaah gugur dan luka-luka.

2 Maret 2001: Para anggota Gerakan “Temple Mount Faithful” mengajukan tuntutan ke Mahkamah Agung yang menuntut agar mewajibkan Waqf Islam untuk menghentikan pekerjaan restorasi Masjid Al-Aqsha.

18 April 2001: Israel mendirikan sebuah museum Yahudi di dekat Masjid Al-Aqsha.

8 Mei 2001: Perdana Menteri Israel Ariel Sharon membentuk komisi tingkat menteri untuk mempersiapkan mekanisme yang memungkinkan orang-orang Yahudi dan wisatawan asing masuk ke Masjid Al-Aqsha.

7 Juli 2001: Pemerintah Israel mencegah masuknya bahan bangunan ke dalam Masjid Al-Aqsha dan mencegah renovasi masjid.

31 Januari 2003: Sebuah perusahaan Zionis memasang stiker gambar Masjid AL-Aqsha pada botol vodka.

9 September 2004: Rabi permukiman Yahudi Tekoa, Menachem Froman,menggelar upacara pernikahan anaknya di dalam Al-Aqsha, yang diwarnai acara minum minuman keras dan anggur.

4 April 2005: Polisi penjajah Zionis Israel menyebar rincian rencana yang mencakup pemasangan alat sensor gerak dan kamera di sekitar maksimal.

1 April 2005: Presiden Israel Moshe Katsav meminta agar orang-orang Yahudi bisa memasuki Masjid Al-Aqsha seperti yang terjadi di Masjid Ibrahimi di Hebron.

8 Februari 2006: Departemen Pendirikan dan Pengajaran Penjajah Zionis dan Jewish Agency mendistribusikan ribuan salinan peta Kota Tua Al-Quds dan memasang sebuah gambar di peta tersebut miniatur Solomon Temple yang mereka klaim di lokasi Kubah Shakhrah.

Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha

Ilustrasi kuil solomon

12 Oktober 2008: Penjajah Zionis membuka sebuah sinagog Yahudi di tanah wakaf sejauh lima puluh meter dari Masjid Al-Aqsha.

20 Februari 2009: Seorang pemukim Yahudi bersenjata mencoba masuk ke Masjid Al-Aqsha dari atap rumah-rumah dekat Masjid Al-Aqsha.

15 Mar 2010: Pembukaan Sinagog al-Kharab di sebelah Masjid Al-Aqsha.

3 April 2010: Penjajah Zionis mengumumkan rencana pembangunan sinagoga besar yang disebut “The Pride of Israel” yang berjarak hanya dua ratus meter dari Masjid Al-Aqsha.

25 Mei 2010: Untuk pertama kalinya Polisi Israel memperbolehkan salah seorang rabi Yahudi dari kelompok ultra-Ortodoks menggelar ritual ibadah Yahudi secara penuh dan sujud secara penuh ke Kubah Shakhrah sepanjang siang hari.

21 Juli 2010: Anggota parlemen dari partai Likud, Danny Danon, dan sejumlah anggota parlemen lainnya menyerbu masuk Masjid Al-Aqsha.

20 Desember 2010: Penangkapan seorang pemukim Yahudi yang berusaha masuk ke Masjid Al-Aqsha dengan membawa bahan peledak untuk diletakkan di Masjid Al-Qibli di dalam area Masjid Al-Aqsha.

20 Agustus 2011: Pasukan penjajah Zionis Israel menyerang massa jamaah yang berkumpul di depan gerbang Kota Tua di Al-Quds, setelah mereka dicegah memasuki Masjid Al-Aqsha.

18 September 2011: Kelompok-kelompok kecil Yahudi secara berturut-turut menyerbu Masjid Al-Aqsha. Dengan dikawal pasukan bersenjata lengkap dari polisi Israel, mereka berjalan-jalan di koridor-koridor masjid di tengah-tengah pengerahan pasukan militer yang intensif di sekitar gerbang-gerbang luar masjid.

8 Januari 2012: Sekelompok tentara penjajah Zionis, didampingi seorang anggota intelijen Zionis, menyerbu masuk Masjid Al-Aqsha, dengan mengenakan seragam militer dan berkeliaran di tengah-tengah provokasi keamanan yang intens.

27 September 2012: Polisi penjajah Zionis Israel menangkap salah satu siswa Serambi Ilmu di dalam Masjid Al-Aqsha dan mengusir 6 siswa lainnya. Setelah itu sekelompok orang Yahudi berkeliaran di seluruh penjuru masjid.

Pada tahun 2013: Pasukan penjajah Zionis Israel mencegah sekelompok pelajar perempuan memasuki salah satu kelompok Serambi Ilmu di Masjid Al-Aqsha pada awal bulan April.

28 Januari 2014: Penjaga Masjid Al-Aqsha menggagalkan upaya sekelompok pemukim Yahudi yang memasukkan bendera Israel ke dalam masjid.

16 Maret 2014: Pasukan khusus Zionis Israel menyerbu Masjid Al-Aqsha melalui pintu Silsilah. Mereka mengepung para jamaah dan menyerang jamaah yang bersiaga di dalam masjid dengan tembakan meriam suara dan peluru karet.

16 April 2014: Pasukan penjajah Zionis menyerbu pelataran Masjid Al-Aqsha dan memberondorngkan tembakan meriam suara, asap dan air mata ke arah jamaah. Serangan ini mengakibatkan 25 jamaah cedera.

1 Januari 2015: Kelompok-kelompok ekstremis Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsha dari pintu barat Al-Magharibah, dengan mendapatkan pengamatan ketat dari polisi Israel.

5 Januari 2015: Kelompok-kelompok pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al Aqsha, dan melakukan wisata provokatif di seluruh penjuru masjid, di tengah-tengah teriakan para jamaah dan para siswa serambil ilmu di dalam masjid.

13 Januari 2015: Polisi Israel menahan kartu  identitas pribadi para jamaah pemuda dan perempuan di gerbang-gerbang masjid sampai pemiliknya keluar dari masjid.

17 Februari 2015: Polisi Zionis menangkap seorang wanita al-Quds pada saat korban keluar dari Masjid Al-Aqsha, melalui gerbang yang an-Nadzir.

24 Februari 2015: Masjid Al-Aqsha mengalami penyerbuan terorganisir dari kelompok-kelompok yang disebut “Pelajar untuk Sinagog” dari pintu Al-Magharibah dengan mendapatkan penjagaan ketat dari pasukan khusus polisi Zionis.

22 Maret 2015: Lebih dari 120 pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsha dari pintu al-Magharibah dengan kelompok-keloompok kecil secara berangsur-ansur dengan mendapatkan penjagaan ketat dari anggota pasukan khusus polisi Zionis.

Zionis Israel terhadap Masjid Al-Aqsha

120 Pemukim yahudi menyerbu Al-Aqsha

 9 April 2015: Polisi Israel memukuli jamaah di Masjid Al-Aqsha setelah mereka menghadang upaya-upaya geng-geng Yahudi menyerbu ke masjid al-Aqsha. Sementara ratusan warga Palestina dari al-Quds dan dari wilayah yang diduduki Israel sejak tahun 1948 berbondong-bondong pelaksanaan keviatan atau perayaan apapun di Masjid Al-Aqsha pada perayaan hari raya “Paskah Yahudi.”

3 Mei 2015: Para anggota organisasi Yahudi ekstrim “Student forTemple” menyerbu Masjid Al-Aqsha dari pintu Al-Magharibah, dengan mendapatkan penjagaan ketat anggota pasukan khusus polisi Israel.

12 Mei 2015: Kelompok-kelompok intelijen Zionis dan geng-geng pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al Aqsha dari pintu al-Magharibah. Pasukan yang diperkuat anggota khusus kepolisian bertugas untuk menjaga dan memberikan perlindungan pada saat mereka melakukan tur di dalam masjid.

 

8 Juni 2015:Kelompok-kelompok mahasiswa dan kelompok-kelompok lain dari para pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al Aqsha. Organisasi pemuda Yahudi ekstrim “M Tertso” mengumumkan untuk mengorganisir serangan secara luas ke Masjid Al-Aqsha bekerjasama dengan kelompok “Student forTemple”.

18 Juni 2015: Pada hari pertama bulan suci Ramadhan, pemukim Yahudi geng-geng pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al Aqsha dari pintu al-Magharibah dengan mendapatkan penjagaan ketat dari pasukan khusus kepolisian Zionis.

20 Juli 2015: Geng-geng pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsha dari pintu al-Magharibah dengan mendapatjan penjagaan ketat pasukan khusus kepolisian Zionis.

23 Juli 2015: Polisi menjajah Zionis mencegah masuknya anak-anak peserta perkemahan musim ke Masjid Al-Aqsha, yang berkumpul di sekitar gerbang-gerbang masjid dengan melakukan untuk rasa damai.

26 Juli 2015: Puluhan jamaah terluka setelah pasukan khusus Zionis menyerbu Masjid Al Aqsha.

11 Agustus 2015: Pasukan penjajah Zionis Israel mencegah masuknya para perempuan dan anak-anak ke Masjid Al-Aqsha, dan menyerang mereka dengan cara mendorong dengan paksa dan menangkap seorang wanita dan seorang anak, di tengah-tengah suasana tegang yang terjadi di daerah tersebut.

3 Januari 2016: Kelompok-kelompok pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsha dari pintu al-Magharibah dengan mendapatkan penjagaan ketat pasukan khusus Zionis dan pasukan gerak cepat dari kepolisian Zionis

6 Januari 2016: Pasukan penjajah Zionis Israel terus mencegah sekitar 60 anak perempuan, siswa perempuan dan seorang wanita memasuki Masjid Al-Aqsha selama waktu penyerbuan yang dilakukan para pemukim Yahudi, sementara sekelompok perempuan terus melakukan aksi protes di depan gerbang-gerbang Al-Aqsha.

31 Januari 2016: Polisi penjajah Zionis mencegah tim teknis Wakaf Islam, merenovasi salah satu teras Masjid Al Aqsha. Sementara geng-geng pemukim Yahudi kembali menyerbu Masjid AL-Asha dari arah pintu al-Magharibah dengan mendapatkan penjagaan ketat dari pasukan khusus polisi Zionis.

3 Februari 2016: Sekitar 130 pemukim Yahudi dan 19 orang berseragam militer dan bersenjata, pagi-pagi menyerbu Masjid Al-Aqsha dari pintu al-Magharibah. Ikut dalam penyerbuan ini 31 perwira intelijen Zionis dan puluhan wisatawan.

1 Maret 2016: Rabbi ekstrim Zionis, Yehuda Glick, memimpin penyerbuan Masjid Al-Aqsha dari pintu al-Magharibah, dengan mendapatkan perlindungan ketat dari pasukan kesatuan khusus dan pasukan “gerak cepat” kepolisian Zionis. Maka terjadilah ketegangan di Masjid Al-Aqsha di tengah-tengah teriakan protes dari para jamaah.

1 Juli 2016: Pasukan penjajah Zionis Israel menutup daerah di sekitar Kota Tua bari arus lalu lintas kendaraan. Pasukan Zionis mengerahkan ribuan anggotanya dan kesatuan-kesatuan khusus di berbagai jalan. Mereka memperketat prosedur keamanan pada pos-pos pemeriksaan militer di pintu masuk utama ke al-Quds.

1 September 2016: “Temple Organizations” menyerukan para pendukungnya untuk penyerbuan massa Masjid Al-Aqsha, pada kesempatan awal bulan baru dari organisasi Ibrani.

25 Januari 2017: Lebih dari 100 anggota geng pemukim Yahudi, Rabu (pagi), menyerbu Masjid Al-Aqsha dari gerbang al-Nagharibah, melalui kelompok-kelompok kecil secara berangsur-angsur.

12 Februari 2017: Para jamaah dan penjaga Masjid Al Aqsha menghadang upaya polisi Zionis Israel memasukkan kamar mobile ke Masjid Al-Aqsha dari gerbang al-Magharibah.

1 Maret 2017: 56 pelajar dari organisasi “Student for Temple” dan 42 pemukim Yahudi, yang sebagian besar mengenakan pakaian tradisional ritual Talmud berwarga hitam, dan tiga anggota intelijen Zionis, menyerbu Masjid Al-Aqsha.

18 April 2017: 43 pemukim Yahudi, termasuk 12 di antaranya pelajar dari organisasi “Student for Temple” menyerbu Al-Aqsha Masjid di pagi hari, dari gerbang al-Magharibah, dengan mendapatkan penjagaan ketat pasukan khusus ZIonis.

15 Mei 2017: 33 pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsha, dengan dijaga ketat oleh pasukan khusus Zionis.

15 Juli 2017: Penjajah Zionis menutup Masjid Al-Aqsha dan mencegah pelaksanaan sholat Jumat untuk pertama kalinya sejak tahun 1967.

18 Juli 2017: Penjajah Zionis memasang pintu-pintu elektronik dan penghalang besi di gerbang-gerbang Masjid Al-Aqsha. Tindakan ini ditolak oleh warga al-Quds dan mereka bersikeras untuk tidak memasuki masjid al-Aqsha pila pintu-pintu elektronik dan penghalang besi tersebut tetep ada. Warga al-Quds terus melakuka unjuk rasa selama 11 hari di gerbang-gerbang Masjid Al-Aqsha sampai sampai penjajah ZIonis melepas dan membongkarnya.

 

Sumber: Palinfo

Referensi:
Serangan Israel yang paling menonjol di Masjid Al-Aqsha selama tahun 2017, Pusat Informasi Nasional Palestina “Wafa”.

Serangan Israel yang paling menonjol di Masjid Al-Aqsha selama tahun 2016, Pusat Informasi Nasional Palestina “Wafa”.

Serangan Israel yang paling menonjol di Al-Aqsa Masjid, Al-Jazeera Net.

Serangan “Israel” ke Masjid Al-Aqsha sejak tahun 1967, Al-Arabia Net.

Serangan-serangan ke al-Aqsha … kronologi, Aljazeera.

 

 

Komentar

Share this post