fbpx

KULIAH DAI BAITUL MAQDIS

Kuliah Dai Baitul Maqdis

KULIAH DAI BAITUL MAQDIS

International Aqsa Institute (IAI) telah melaunching program baru, yaitu “Kuliah Dai Baitul Maqdis Nuruddin Zanki”. Bekerjasama dengan lembaga keulamaan internasional, Komite Al-Quds. Lembaga khusus yang membidangi Baitul Maqdis dalam organisasi Ikatan Ulama Internasional yang saat ini masih diketuai oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradlawy.

Kuliah Dai Baitul Maqdis

 

Program Kuliah Dai ini merupakan amanat dari Konferensi Internasional Mimbar Al-Aqsha Pertama, 14-15 Juli 2017 di Istanbul Turki. Bertujuan untuk mengkader ulama yang membawa misi Baitul Maqdis. Menguasai semua permasalahan yang berkaitan dengan Palestina dan Baitul Maqdis, serta mampu memahamkannya dengan baik kepada umat Islam.

Kuliah Dai Baitul Maqdis

Program ini membutuhkan 78 jam tatap muka. Diselesaikan dalam satu tahun untuk mewisuda satu angkatan kelulusan. Adapun teknis perkuliahan dilaksanakan dalam dua hari pertemuan, setiap dua bulan sekali. Bagi yang dinyatakan lulus maka berhak mendapat sertifikat yang dikeluarkan langsung oleh Komite Al-Quds Ikatan Ulama Internasional.

Model pembelajaran dalam program ini mirip dengan perkuliahan di perguruan tinggi. Mengedepankan pembahasan ilmiah berdasar pada sumber-sumber otentik. Kelebihannya, lebih banyak workshop, praktik retorika, diskusi ilmiah, dan penulisan karya ilmiah.

Kuliah Dai Baitul Maqdis

Perkuliahan angkatan perdana telah dimulai pada tanggal 24-25 Februari 2018. Satu bulan ke depan akan dibuka kembali untuk angkatan kedua bagi para Dai/Daiyah, pimpinan pesantren, dan Khatib masjid.

Nama Nuruddin Zanki sendiri diambil dari seorang pemimpin Muslim yang meletakkan dasar perjuangan pembebasan Al-Aqsha dari tentara Salib. Zanki membuat sebuah mimbar megah di Suriah. Dijadikan sebagai simbol perjuangan. Mimbar ini akan dipindahkan ke dalam Masjid Al-Aqsha setelah Baitul Maqdis dibebaskan dari tentara Salib. Namun Zanki wafat sebelum merealisasikan impian sucinya.

Kuliah Dai Baitul Maqdis

Tetapi impian suci itu tidak ikut terkubur bersamanya. Adalah Shalahuddin Al-Ayyubi yang melanjutkan cita-citanya. Demi menjaga semangat perjuangannya ini, Shalahuddin pun menikahi istri Zanki yang memang syarat menikahinya adalah melanjutkan perjuangan pembebasan Al-Aqsha. Shalahuddin akhirnya berhasil mewujudkan cita-cita Nuruddin Zanki. Mimbar pun dipindahkan ke Masjid Al-Aqsha, mimbar tersebut lebih dikenal dengan Mimbar Shalahuddin.

Ahmad Musyafa’, Lc.
Direktur International Aqsa Institute

Komentar

Share this post