Jatuhnya Kota Al-Quds Ke Tangan tentara Salib

Al-Quds

Jatuhnya Kota Al-Quds Ke Tangan tentara Salib

International Aqsa Institute – Kali ini akan membawa anda pada sejarah jatuhnya Kota Al-Quds ke tangan para Tentara Salib.

Tepatnya pada tahun 1095 M, saat Perang Salib pertama kali berkobar. Perang itu di picu oleh terjadinya penghancuran gereja-gereja dan pembunuhan orang-orang Nasrani di kota Al-Quds pada zaman kekuasaan Dinasti Fathimiyah, yang kala itu di pimpin oleh al-Hakim Bi Amrillah (986-1021M).

Dan penyebab lainnya, yaitu adanya lapisan masyarakat Eropa miskin yang memerlukan bahan pangan. Dan bahan pangan itu bisa didapat dari wilayah-wilayah yang dikuasai kaum muslim. Hal itu bisa dilihat dari khotbah Paus Urbanus II di hadapan para relawan tentara salib: Pergilah kalian! Buatlah kecemasan bagi orang-orang barbar itu. Bersihkan tanah suci dari tangan orang-orang kafir. Rebutlah untuk diri kalian karena tanah suci tersebu penuh dengan susu dan madu, sebagaimana dikatakan dalam kitab Taurat.

Mereka pada awalnya hanya mengirim pasukan relawan dari berbagai wilayah. Namun, pasukan itu kalah di tengah jalan, karena bukan dari pasukan terlatih.
Kemudian dikirim pasukan terlatih yang berjumlah 150.000 orang dengan persenjataan lengkap di bawah kepemimpinan Godfrey. Mereka berhasil menaklukan wilayah-wilayah Islam, di antaranya Antokia (utara Syam), Ruha (Edessa) dan al-Quds (tahun 1099M.) selain itu kota Akka, Tripoli, dan kota Tyre berhasil mereka kuasai.

 

 JATUHNYA AL-QUDS, DAN PEMBANTAIAN PENDUDUK KOTA

Jatuhnya Al-Quds, terjadi karena adanya pengkhianatan dari Fathimiyah.
Kota Al-Quds yang di dalamnya terdapat Masjid Al-Aqsha, pada masa itu dikuasai oleh Bani Seljuk. Ketika Tentara Salib menyerang Bani Seljuk dari arah utara, Fathimiyah menyerang mereka dari arah selatan. Konsentrasi Bani Seljuk terpecah karena melawan dua lawan dari dua arah sekaligus, sehingga mereka kalah. Kota Al-Quds Jatuh.

Setelah Kota Al-Quds berhasil mereka kuasai, terjadi kesepakatan rahasia antara iftikhar Ad-Daulah, gubernur al-Quds dari Fathimiyah dengan Raymond de Saint GIlles dan Godfrey, komandan tentara salib. Kesepakatan ini menyatakan bahwa kunci Al-Quds akan diberikan kepada tentara salib dengan syarat mereka dibiarkan pergi dengan selamat. Akhirnya para pemimpin Fathimiyah meninggalkan Benteng Al-Quds melalui jalur selatan sehingga sampai ke Askelon dan Mesir.

Al-Quds

(Sumber Gambar:Wikipedia)

Tentara Salib Masuk ke kota Al-Quds dan terjadilah pembantaian penduduk kota. Mereka menyembelih siapa saja yang ditemui. Masjid Al-Aqsha menjadi benteng terakhir tempat mereka berlindung. Setelah penduduk kota mereka bantai, Masjid Al-Aqsha mereka jadikan tempat yang terhinakan bagi kaum muslim.

 

KONDISI MASJID AL-AQSHA

Kubah Ash-Shakhrah di ubah menjadi gereja yang dinamakan Aqdas al-Muqaddasat. Tiang salib terpampang diatas kubah dan di dalamnya ditempel gambar-gambar Isa al-Masih. Ketika pembantaian berlangsung di Masjid al-Aqsha, tentara salib menjadikan Ash-Shakhrah sebagai tempat penyembelihan.

Gudang al-Aqsha yang kini menjadi Mushala al-Marwani diubah menjadi kandang kuda. Mereka menamakan tempat ini sebagai Solomon Stable (kandang kuda sulaiman). Tentara salib juga membangun gereja di sebelah utara Masjid al-Aqsha. Mereka memecah dinding-dinding Ash-Shakhrah menjadi batu-batu kecil yang kemudian dijual kepada para peziarah Eropa yang datang ke Al-Quds dengan harga seberat timbangan emas. Kejadian ini berlangsung hingga para raja mereka datang dan melihat apa yang dilakukan para tentaranya. Kemudian Ash-shakhrah ditutup agar tak dapat dijangkau oleh tangan-tangan usil.

Selama sembilan puluh tahun (1099-1187) Kota Al-Quds dikuasai tentara salib.
Hingga datangnya An-Nasir Salah ad-Din Yusuf ibn Ayyub (Shalahuddin Al-Ayyubi) dan membebaskan kota Al-Quds dari cengkeraman tentara salib.

 

 

Baca Juga: Bagaimana Shalahuddin Merebut Kembali Al-Aqsha?

 

 

 

 

Komentar

Share this post