fbpx

Rachel Corrie: Wanita Non-muslim Yang menjadi Pahlawan Palestina, Wariskan semangat perjuangan

Rachel Corrie

Rachel Corrie: Wanita Non-muslim Yang menjadi Pahlawan Palestina, Wariskan semangat perjuangan

Dia bukanlah dari bangsa Arab, ia juga bukan seorang muslim, bahkan belum genap dua bulan ia menginjakkan kaki di Palestina, tetapi ia telah menganggap mereka seperti keluarganya sendiri.
Seorang gadis yang cantik, periang, seorang mahasiswa dan aktivis kemanusiaan yang sangat peduli terhadap kemanusiaan terutama apa yang terjadi di Palestina. Dia adalah Rachel Corrie.

KEHIDUPAN RACHEL CORRIE

Lahir di Olympia, Washington, Amerika Serikat, meskipun ia adalah seorang non-muslim tak membuatnya menutup mata pada penjajahan di Palestina. Rasa kemanusiaannya bahkan sudah muncul sejak ia baru berumur 10 tahun. Ia mengutarakan mimpinya untuk dapat menolong anak-anak lain yang tak seberuntung dirinya.

Tak ada paksaan bagi Rachel Corrie untuk berada di Palestina, Namun rasa takut dan cemas pastilah ada. Meskipun begitu, keinginan serta rasa kemanusiaan yang kuat membuat ia berani dan menghapus semua keraguan itu, akhirnya ia pun pergi ke Palestina. Rachel Corrie tergabung dalam sebuah organisasi kemanusiaan Internasional “International Solidarity Movement” (ISM), bersama 8 orang anggota lainnya ia meneliti konflik yang sedang terjadi antara Israel dan Palestina.

TIBA DI PALESTINA

Setelah ia menginjakkan kaki di Palestina, barulah ia menyadari. Bukanlah bukan sebuah konflik semata, namun penjajahan serta penindasan lah yang terjadi.
Seperti yang ia ungkapkan dalam kutipan salah satu E-Mail yang dikirim Rachel:

”Aku telah berada di Palestina selama dua minggu dan satu jam sekarang, Barulah sedikit kata yang bisa disampaikan untuk menggambarkan apa yang saya lihat. Adalah hal yang sulit untuk memikirkan apa yang terjadi di sini dan duduk untuk menulis balasan ke Amerika Serikat. Sesuatu tentang portal virtual menuju kemewahan. Aku tak pernah tahu banyak anak di sini pernah hidup tanpa adanya lubang bekas tembakan tank di dinding, dan menara dari tentara penjajah yang terus mengawasi mereka”

“bahkan aku sempat tak yakin, anak yang paling kecil sekalipun di antara anak-anak ini mengerti
bahwa hidup tidaklah seperti ini di tempat manapun.
Seorang anak berusia 8 tahun telah terbunuh di tembak oleh Tank Israel, dua hari sebelum
Aku sampai di sini.”

Pada bulan Januari, Rachel Corrie saat itu menetap di Perbatasan Rafah, wilayah selatan dari Jalur Gaza yang merupakan Zona perang. Ia dan para aktivis lainnya berusaha untuk melindungi para pekerja yang sedang memperbaiki sumur “Canada” yang memiliki 50% sumber air di daerah tersebut sebelum kerusakan. Namun, Tank dan Sniper Israel secara rutin menembak siapapun yang mencoba untuk memperbaiki sumur tersebut.

SAAT-SAAT TERAKHIR RACHEL

Pada 16 Maret 2003, pasukan IDF (Israeli Defense Force) melakukan sebuah operasi Untuk menghancurkan rumah salah satu penduduk di Rafah. Buldozer pun sudah di kerahkan.
Mereka beralasan, penghancuran itu dilakukan untuk menghancurkan terowongan yang dibuat di sepanjang perbatasan Gaza dan Mesir.

Ketika Buldozer sudah berada di hadapan rumah yang hendak di hancurkan,
Rachel berdiri di Hadapan Buldozer tersebut untuk menghentikannya, Buldozer tersebut semakin mendekat namun ia tetap tak bergerak di tempatnya. Tak melambat sedikit pun, akhirnya Buldozer itu melindas tubuh Rachel. Rekan-rekannya pun histeris, dan menghampiri tubuh Rachel yang hampir tertimbun tanah karena lindasan Buldozer itu.

Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun 15 menit setelah itu Rachel dinyatakan telah meniggal dunia. Rachel Corrie tutup usia pada usia 23 tahun. Ia hanyalah gadis biasa yang ingin mewujudkan impiannya menolong sesama, Kini ia dikenang sebagai Pahlawan bagi warga Palestina.
Semangatnya terus diwariskan pada generasi-generasi muda Palestina dan seluruh aktivis kemanusiaan di dunia.

Komentar

Share this post